SURABAYA Lagi-lagi, hasil imbang. Kali ini melawan Dewa United. Bagi Persebaya, ini bukan sekadar kehilangan dua poin. Ada masalah yang jauh lebih mendasar, dan itu terletak di ujung lini serangan. Mereka kesulitan sekali mengubah peluang menjadi gol.
Di tengah situasi yang serba gelisah itu, satu nama tiba-tiba ramai diperbincangkan. Ramadhan Sananta. Striker Timnas Indonesia yang saat ini membela Brunei DPMM FC itu disebut-sebut masuk dalam radar manajemen Persebaya untuk musim depan.
Isu ini pertama kali mencuat dari akun Instagram @seputarpemainbola.id, Minggu lalu. Menurut kabar itu, kontrak Sananta di Brunei akan berakhir pada Juni 2026. Artinya, peluang untuk memboyongnya terbuka lebar.
Ada dua opsi yang mungkin diambil: mendatangkannya di tengah musim kompetisi 2025/2026, atau menunggu hingga awal musim berikutnya.
Yang menarik, rumor ini punya dasar yang kuat. Bukan cuma isapan jempol belaka.
Reuni yang Masuk Akal
Bernardo Tavares, sang arsitek Persebaya saat ini, punya sejarah panjang dengan Sananta. Mereka pernah bekerja sama di PSM Makassar. Di sanalah Sananta benar-benar menemukan bentuk terbaiknya, berubah dari pemain pelapis menjadi mesin gol utama.
Musim 2022/2023 adalah buktinya. Sebelas gol ia cetak dari 28 penampilan. Ia menjadi top skor tim dan pilar penting bagi PSM kala itu.
Bagi Tavares, Sananta lebih dari sekadar angka. Dia punya karakter agresif di area penalti, kuat dalam duel udara, dan yang paling penting: insting mencetak gol yang sulit diajarkan. Profil seperti inilah yang sepertinya sedang dicari-cari Persebaya saat ini.
Namun begitu, perjalanan Sananta ke puncak tidaklah mulus.
Dari Liga 3 ke Sorotan Nasional
Nama Ramadhan Sananta benar-benar meledak di SEA Games 2023 Kamboja. Lima gol! Dua di antaranya ia cetak di partai final melawan Thailand, yang sekaligus mengantarkan Indonesia meraih medali emas.
Tapi sebelum jadi pahlawan nasional, jalannya berliku. Tahun 2021, ia masih bermain di Liga 3 bersama PS Harjuna Putra. Lalu sempat singgah di Persikabo 1973, tapi jarang mendapat kesempatan.
Keberuntungannya berubah total saat PSM Makassar memberinya kepercayaan. Dan sisanya adalah sejarah.
Catatannya di DPMM FC memang belum terlalu mentereng hanya dua gol dari 15 laga. Tapi kita juga harus melihat faktor adaptasi dan sistem permainan yang berbeda. Itu tidak mudah.
Lantas, bagaimana reaksi dari pihak terkait?
Antara Harapan dan Realita
Di kalangan suporter Bonek, kabar ini disambut beragam. Ada yang antusias, berharap sang striker segera datang. Tapi ada juga yang berpikir lebih baik Sananta tetap di luar negeri untuk menimba pengalaman lebih dulu.
Dari sisi nilai, harga pasarnya saat ini diperkirakan sekitar Rp 4,78 miliar.
Sementara itu, Bernardo Tavares memilih bersikap sangat hati-hati. Ia enggan berkomentar panjang lebar.
“Jendela transfer masih berlangsung hingga 6 Februari. Bisa saja tidak ada pemain yang datang, atau justru ada tambahan,”
Ucapannya singkat. Tapi justru di balik kesingkatan itu, tersimpan banyak kemungkinan yang bisa terjadi.
Pada akhirnya, ini lebih dari sekadar urusan transfer pemain biasa.
Jawaban atas Masalah yang Menganga
Kalau benar Sananta datang, dia bukan sekadar pemain baru. Dia adalah solusi. Seorang striker yang sudah paham betul dengan filosofi pelatihnya, seringkali jauh lebih berharga daripada membeli nama besar yang butuh waktu lama beradaptasi.
Kini, semua kembali ke tangan manajemen Persebaya. Apakah kisah sukses Tavares dan Sananta di Makassar akan mendapat babak barunya di Surabaya?
Kita tunggu saja. Bursa transfer tak lama lagi akan memberikan jawabannya.
Artikel Terkait
Barcelona Masuk Perburuan Eli Junior Kroupi, Bournemouth Pasang Harga Rp1,4 Triliun
Manchester United Siapkan Skuad Baru untuk Musim 2026/2027 Usai Pastikan Tiket Liga Champions
PSM Makassar Hadapi Tiga Laga Penentu Nasib di Liga 1: Lawan Arema, Persib, dan Madura United
Thales Lira Kirim Kode ke PSS Sleman Usai Tersingkir dari Skuad Persija