SURABAYA Lagi-lagi, hasil imbang. Kali ini lawan Dewa United. Bagi Persebaya, ini bukan cuma soal poin yang tercecer, tapi lebih ke pertanyaan yang terus menggantung: kenapa peluang susah jadi gol? Dominasi permainan ada, serangan dibangun, tapi sentuhan pamungkas selalu saja kurang tajam. Masalahnya jelas: lini depan.
Nah, di tengah kegelisahan itu, satu nama mulai ramai dibicarakan. Ramadhan Sananta. Gosip transfer untuk Liga Super 2025/2026 tiba-tiba menghangat, dan kali ini punya alasan yang menarik.
Rumor soal reuni Sananta dengan Bernardo Tavares di Persebaya ini punya dasar yang kuat. Bukan cuma isapan jempol. Mereka punya sejarah bersama di PSM Makassar, tempat di mana Sananta benar-benar melejit. Ada chemistry yang sudah terbentuk, logika taktis yang masuk akal, dan yang paling penting: kebutuhan kedua belah pihak yang sepertinya cocok.
Buat Tavares, Sananta itu bukan pemain biasa. Dia adalah proyek yang pernah diurusnya sendiri. Di bawah asuhan pelatih asal Portugal itu, Sananta bertransformasi dari penyerang muda mentah menjadi finisher utama. Tavares paham betul karakter pemain ini: agresif di area penalti, kuat dalam duel udara, punya insting gol yang kadang datang dari situasi kacau, bukan cuma skema rapi.
Karakter seperti inilah yang sepertinya sedang dicari-cari Persebaya saat ini.
Lihat saja beberapa laga terakhir. Bajul Ijo sering menguasai permainan, bola muter-muter di sepertiga akhir lapangan lawan, tapi ujung-ujungnya… nihil. Nggak ada yang bisa diandalkan untuk memastikan bola masuk gawang. Hasil imbang tadi malam cuma pengingat terbaru yang paling nyata.
Perjalanan Sananta ke panggung utama juga nggak instan. Namanya meledak di SEA Games 2023 Kamboja, dengan lima gol yang membawa Indonesia raih emas, termasuk dua di final lawan Thailand. Tapi sebelum jadi pahlawan, jalannya berliku.
Tahun 2021, ia masih main di Liga 3 bersama PS Harjuna Putra. Performanya menarik minat Persikabo 1973, tapi di level tertinggi, kesempatan tak kunjung datang. Hanya empat penampilan tanpa gol. Hampir saja terlupakan.
Semuanya berubah saat PSM Makassar mendatangannya pada Mei 2022.
Di sinilah Tavares memberi kepercayaan. Sananta diberi ruang untuk tumbuh, belajar, dan beradaptasi. Hasilnya? Musim lalu ia jadi top skor PSM dengan 11 gol, sejajar dengan Wiljan Pluim. Dari sinilah ia naik kelas.
Panggilan ke Timnas pun menyusul. Debut di era Shin Tae-yong, lalu cetak gol di Piala AFF 2022. Sekarang, Sananta membela DPMM FC di Brunei. Statistiknya mungkin tak segemerlap dulu cuma dua gol dari 15 laga tapi konteksnya beda. Adaptasi, sistem, dan peran yang berubah pasti berpengaruh.
Artikel Terkait
PSIS Semarang Berbenah, Alfredo Vera Dikabarkan Jadi Arsitek Baru
Penalti Gagal, Como Gagal Tundukkan Atalanta yang 10 Pemain
Drama Injury Time, Manchester United Selamatkan Tiga Poin di Old Trafford
Persib Kokoh di Puncak Meski Borneo Menang Dramatis