Insiden kartu merah untuk Yuran Fernandes yang kemudian dibatalkan VAR di menit 39 semakin mempertegas betapa kacau dan emosionalnya pertahanan mereka. Sang kapten pun ikut terseret dalam pusaran itu.
Lima kekalahan ini mencatatkan noda hitam untuk Tomas Trucha. Tapi jangan salah, menyalahkan pelatih saja itu terlalu mudah dan menyesatkan.
Angkanya mungkin menyamai rekor buruk era Tavares dulu, tapi konteksnya jauh berbeda dan justru itu yang bikin miris.
Di era Trucha sekarang, lima kekalahan itu murni di Liga Super. Dampaknya langsung terasa: posisi di papan klasemen anjlok, suporter marah, masa depan suram.
Sementara di masa Tavares dulu, lima kekalahan itu tersebar di dua kompetisi, Liga 1 dan Piala AFC, dengan skuad yang sebenarnya lebih mumpuni.
Trucha berusaha tetap tenang meski tekanan menggila.
“Hasil ini mengecewakan, tapi kami fokus ke laga berikutnya,” ujarnya singkat seusai laga.
Dia mengakui koordinasi pertahanan adalah masalah utama. Tapi pertanyaan besarnya, bagaimana mau memperbaiki koordinasi kalau materi pemainnya saja tak memadai?
PSM sekarang ada di persimpangan yang sangat berbahaya. Opsi termudah memang menunjuk Trucha sebagai kambing hitam. Tapi akar masalahnya, seperti yang kita lihat berulang, adalah manajemen yang tak kunjung belajar dari kesalahan.
Tanpa transparansi, tanpa perbaikan finansial yang serius, dan tanpa keputusan strategis yang berani, pelatih siapa pun yang datang akan bernasib sama. Lima kekalahan beruntun ini lebih dari sekadar alarm. Ini adalah sirene darurat yang memekakkan telinga. Dan kali ini, manajemen PSM sudah tak punya tempat lagi untuk bersembunyi.
Artikel Terkait
Barcelona Hancurkan Real Oviedo, Yamal Sempurnakan Malam dengan Gol Salto
Kurzawa Sambut Sorakan Bobotoh, Persib Kokoh di Puncak Usai Tekuk PSBS Biak
38 Emas di ASEAN Para Games, Kontingen Atletik Indonesia Lampaui Target
Kapten PSM di Ujung Tanduk, Performa Turun dan Rumor Hijrah ke Persebaya