Stadion Barombong: Proyek Mandek yang Kini Berpeluang Bangkit

- Jumat, 23 Januari 2026 | 17:30 WIB
Stadion Barombong: Proyek Mandek yang Kini Berpeluang Bangkit

Ia berpendapat, baik GMTD maupun Pemprov Sulsel harus duduk bersama mencari solusi. Aturan pun sebenarnya sudah jelas, bahwa untuk fasilitas umum seperti ini, lahan harus dikuasai pemerintah. Lahan seluas lebih dari 3,5 hektar itu harus segera dimanfaatkan sesuai rencana awal.

Ke depannya, kehadiran sebuah stadion internasional di Barombong bakal jadi ikon baru. Nilai strategis kawasan di sekitarnya pasti terdongkrak. Aktivitas dan pembangunan akan mengikuti. Tapi, Ancu mengingatkan, perencanaan pendukungnya harus matang.

“Stadion butuh area parkir yang luas, ruang untuk aktivitas olahraga masyarakat tidak cuma di dalam, tapi juga di sekelilingnya, mirip seperti kompleks GBK. Ini catatan penting yang harus segera disiapkan,” ujarnya.

Begitu status lahan jelas, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana teknis yang detail dan mutakhir. Persoalan akses, misalnya. Jembatan Barombong yang sekarang sudah sering macet parah, terutama saat jam sibuk.

“Bayangkan jika nanti ada event besar dan ditambah arus warga dari arah Takalar dan Gowa. Butuh jembatan tambahan atau bahkan jalan layang khusus untuk mengurai kemacetan. Dalam 5-10 tahun ke depan, volume kendaraan akan jauh lebih tinggi,” papar Ancu.

Jalan layang itu, selain sebagai akses utama ke stadion, bisa juga jadi alternatif penghubung wilayah dan bahkan wahana rekreasi baru. “Perencanaannya tidak bisa hanya mengandalkan jalan yang ada sekarang. Harus ada skenario penanganan jangka panjang,” tukasnya.

Di sisi lain, respons dari pemerintah provinsi terasa lebih hati-hati. Sekretaris Provinsi Sulsel, Jufri Rahman, menganggap rencana penyerahan alas hak ini sudah sangat terlambat. Isu ini, katanya, sudah mengemuka sejak era Gubernur Syahrul Yasin Limpo.

“Saya sendiri belum dapat info resmi dari GMTD. Tapi apapun itu, kita hargai niat baiknya. Akan kita lihat nanti. Baru kita percaya kalau sertifikatnya benar-benar sudah diserahkan. ‘Akan diserahkan’ itu saya sudah dengar sejak beberapa tahun lalu,” beber Jufri.

Ia mengungkit masa lalu. Dulu pemprov berani membangun stadion karena ada komitmen dari GMTD bahwa lahannya akan diserahkan. “Ternyata, sampai bangunannya selesai, lahan tak kunjung berpindah tangan. Saya tidak tahu apa alasannya. Itu kan komitmen awal yang seharusnya dipenuhi,” tambahnya.

Meski begitu, Jufri tak menampik bahwa melanjutkan Barombong adalah ide bagus. Bahkan dengan adanya proyek Sudiang dan Untia sekalipun. “Masing-masing punya kewenangan dan konteksnya sendiri. Yang penting, semakin banyak fasilitas olahraga bagus, semakin banyak pemain bola profesional yang lahir dari Makassar. Saat ini saja, dalam kondisi fasilitas seadanya, banyak atlet kita yang bersinar di level nasional,” tandasnya penuh harap.


Halaman:

Komentar