Ia menjelaskan, standar di Real Madrid memang gila-gilaan. Bermain di sini artinya hidup di bawah mikroskop. Setiap langkah diperhatikan, setiap kesalahan dibesar-besarkan. Tapi itu hanya berlaku untuk nama-nama besar.
“Baik dari media maupun fans, pemain kecil jarang dikritik. Nama-nama besarlah yang selalu dipilih, entah untuk dipuji atau dicaci,” tegasnya.
Bukan berarti Kroos membenarkan cara ini. Baginya, ini cuma realitas yang sering terjadi. Dicemooh sebelum pertandingan justru bikin segalanya makin sulit. Tapi ya, begitulah situasinya sekarang.
“Satu-satunya jalan keluar adalah lewat hasil, sikap, dan permainan. Kita semua pernah melalui fase seperti ini,” kenang Kroos.
Memang, reaksi negatif fans Madrid punya latar belakang. Tiga hari sebelum pertandingan penuh siulan itu, Madrid ditaklukkan Albacete, tim divisi dua, dengan skor 3-2. Kekalahan yang memalukan.
Kroos sendiri punya pengalaman pahit serupa. Di musim dingin 2021, ia duduk di bangku cadangan saat Madrid tersingkir dari Copa del Rey oleh Alcoyano, tim divisi tiga. Memalukan? Tentu. Tapi hidup terus berjalan.
“Saya juga pernah tersingkir oleh tim divisi tiga,” ujarnya mengenang.
Yang menarik, di kedua musim ketika kekalahan memalukan itu terjadi, Madrid justru keluar sebagai juara La Liga. Situasi memang tidak pernah sempurna. Bahkan generasi emas sekalipun punya hari-hari buruk.
Mungkin itu yang coba disampaikan Kroos. Di Madrid, badai kritik adalah bagian dari paket. Dan hanya pemain yang dianggap “hebat” yang layak menerimanya.
Artikel Terkait
Manchester City Vs Liverpool Jadi Duel Utama Perempat Final Piala FA
Sponsor dan Basis Suporter Jadi Tulang Punggung Finansial Persib
Debut Imran Nahumarury Sukses, Semen Padang Kalahkan PSBS Biak 2-0
Persebaya Dipecundangi Borneo 1-5, Lini Depan Jadi Sorotan