Angin kencang dan hujan lebat yang melanda Kampung Ra'ong, Manggarai Barat, NTT, ternyata membawa dampak yang memilukan. Sebuah gedung Sekolah Dasar Inpres (SDI) Ra'ong di desa itu ambruk total, rata dengan tanah. Kejadian ini terjadi di Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, wilayah yang tak begitu jauh dari destinasi wisata terkenal, Labuan Bajo.
Sukarmin, salah seorang guru di sekolah tersebut, mengonfirmasi kejadian itu. "Bangunannya diterjang angin kencang disertai hujan lebat, lalu ambruk," ujarnya, menggambarkan situasi yang terjadi Selasa lalu.
Gedung yang roboh itu bukanlah bangunan permanen, melainkan semipermanen. Yang lebih menyentuh, bangunan itu adalah hasil jerih payah dan swadaya orang tua murid sendiri. Sekolah ini menampung sekitar 60 siswa, yang kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit kehilangan salah satu ruang belajarnya.
"Kami benar-benar membutuhkan gedung itu," keluh Sukarmin. "Anak-anak butuh tempat untuk belajar."
Memang, dalam beberapa bulan terakhir, ruangan itu punya banyak fungsi. Selain sebagai ruang kelas cadangan, ia juga dipakai untuk kegiatan keagamaan dan jadi tempat baca yang nyaman. Nah, setelah kejadian ini, otomatis semua aktivitas itu harus berpindah.
Lalu, bagaimana nasib kegiatan belajar mengajar sekarang? "Untuk sementara, kami memanfaatkan ruang kantor dan perpustakaan sekolah," jelas Sukarmin.
Ruang yang seharusnya untuk administrasi dan penyimpanan buku, kini terpaksa disulap menjadi ruang kelas darurat. Situasi ini tentu saja mengganggu kenyamanan, namun tak ada pilihan lain. Siswa-siswa di SDI Ra'ong harus terus belajar, meski di tengah keterbatasan yang mendadak datang menerpa.
Artikel Terkait
KPK Kembali OTT di Sumsel, Lima ASN BPK Diamankan Terkait Suap Pemkab Muara Enim
Kemenkeu Peringatkan Video Deepfake Menteri Keuangan soal Bantuan 700 Orang Tercepat
Bayi Gajah Sumatera Lahir di Taman Nasional Tesso Nilo, Jadi Harapan Baru Konservasi
Polda Sumsel Mulai Bedah Rumah di Banyuasin Sambut Hari Bhayangkara ke-80