Ketika ditanya apakah maksudnya di musim panas, Deeney bersikeras.
"Tidak. Maksudku Januari ini. Orang-orang lupa, sebelum Natal semua terlihat buruk dan mengerikan. Tapi lihatlah rentetan 13 pertandingan tak terkalahkan ini. Dia bukan bagian penting dari itu. Itu poinku," tegasnya dalam wawancara di CBS Sports Golazo.
Statistik Salah di Prancis selatan memang tidak menggembirakan. Ia bermain penuh 90 menit, tapi hanya melepaskan dua tembakan yang meleset, melewatkan peluang besar, dan kehilangan bola sembilan kali dari sentuhan yang terbatas. Penampilannya jauh dari sosok yang baru saja membawa Mesir ke semifinal Piala Afrika dengan catatan mentereng.
Memang, era keemasan Salah tak terbantahkan. Di bawah Jurgen Klopp, dan bahkan di musim lalu, seluruh taktik Liverpool seolah dibangun untuk memaksimalkan sang Raja Mesir. Hasilnya nyata: rekor gol, gelar individu, dan trofi Premier League. Tapi musim ini ceritanya berbeda.
Di sisi lain, beberapa pekan terakhir justru menunjukkan sinyal positif. Identitas baru Liverpool pelan-pelan terbentuk. Arah permainan yang lebih kolektif ini mungkin justru yang terbaik untuk masa depan tim. Pertanyaannya kini: apakah masih ada tempat untuk legenda yang satu ini dalam cetak biru yang baru?
Waktunya akan menjawab. Tapi satu hal pasti, opini seperti milik Deeney ini akan terus bergema, terutama jika performa Salah tak kunjung menyala.
Artikel Terkait
Herdman Coret Teja Paku Alam dari Skuad Perdana, Kiper dengan Clean Sheet Terbanyak Diabaikan
Newcastle Siap Balas Dendam, Barcelona Waspadai Atmosfer Panas St James Park
Tekanan Suporter Real Madrid Mengarah ke Perez, Masa Depan Juni Calafat Terancam
Undian Piala FA Picu Kontroversi, Aksi Joe Hart Dituding Curang