Amin sendiri mengaku punya pengalaman berkesan di Swedia. Dia sempat cedera, tapi berhasil bangkit dan tampil di tiga laga terakhir musim. “Saya berhasil kembali memaksimalkan semua peluang di tiga pertandingan terakhir,” katanya. Tak lupa, dia berterima kasih pada semua pihak dan berharap bisa bertemu lagi di lain waktu.
Nah, di sinilah peluang itu terbuka lebar untuk PSM. Dengan status bebas transfer, harga Amin relatif terjangkau, sekitar Rp 3,4 miliar. Profilnya juga oke: tinggi 183 cm, pengalaman main di liga Swedia, Serbia, dan Norwegia dengan catatan ratusan penampilan. Belum lagi caps untuk Timnas Suriah. Dia persis tipe gelandang serba bisa yang dibutuhkan pelatih Tomas Trucha untuk mengisi lini tengah yang kerap kehilangan kreativitas.
Tapi, seperti biasa, PSM kehilangan momentum. Sementara mereka tampak ragu-ragu, Simon Amin sudah memutuskan nasibnya. Dia memilih bergabung dengan sebuah klub di Liga Utama Irak. Pintu untuk PSM dan Borneo pun tertutup rapat.
Ini bukan kali pertama. Lepasnya Amin seperti cermin dari masalah lama PSM di meja transfer: lamban dan ragu. Padahal, status bebas sanksi seharusnya memacu mereka untuk bergerak lebih agresif. Di sisi lain, lihatlah pesaing-pesaing mereka. Borneo FC, Persib, Persebaya mereka sudah menunjukkan aksi nyata dengan mendatangkan pemain baru. PSM? Masih berkutat dengan rumor dan target yang menguap.
Waktu terus berjalan. Jendela transfer hanya sampai 20 Februari 2026. Kegagalan merekrut Simon Amin harusnya jadi alarm keras. Jika tidak segera berbenah dan mengambil keputusan berani, PSM berisiko menjalani sisa kompetisi dengan skuad yang masih pincang. Bebas sanksi FIFA itu sebuah anugerah, tapi percuma kalau tidak dimanfaatkan dengan langkah nyata.
Artikel Terkait
Chelsa Siapkan Pintu Keluar untuk Enam Pemain Jelang Akhir Bursa
Sergio Ramos dan Gelombang Bobotoh: Mungkinkah Bandung Jadi Pelabuhan Terakhir?
PSM Makassar Bidik Gelandang Australia Blake Ricciuto Jelang Putaran Kedua
Febri Hariyadi Digoyang Dua Klub, Masa Depan di Persib Mulai Ragu