Bagi banyak pengamat, memaksakan diri tampil di AS justru bisa jadi blunder besar bagi Iran. Apalagi, sejak pertengahan Juni 2025 lalu, pemerintah AS sudah melarang warga dari 12 negara, termasuk Iran, untuk memasuki wilayahnya. Larangan itu masih berlaku.
Belum lagi kekhawatiran soal keamanan. Ada ketakutan nyata bahwa jika timnya bermain di sana, mereka akan mendapat protes keras dari masyarakat dunia yang berkumpul di AS. Risikonya terlalu besar.
Dua Calon Pengganti yang Sudah Antre
Lalu, kalau Iran benar-benar hengkang, siapa yang berhak menggantikan posisinya? Pertanyaan ini mulai menghangat.
Media Inggris, Sportbible, punya analisis menarik. Mereka menyoroti dua negara yang peluangnya paling besar. Opsi pertama jatuh pada Uni Emirat Arab (UEA). Alasannya cukup logis: UEA adalah negara Asia dengan ranking FIFA tertinggi (peringkat 68) di antara negara-negara Asia lain yang sudah dipastikan gagal lolos kualifikasi. Mereka dinilai paling siap.
Namun begitu, ada juga nama Irak yang disebut-sebut sebagai opsi kedua. Ini agak menarik. Irak sebenarnya masih punya jalan lewat playoff antarkonfederasi pada Maret 2026 nanti. Nah, jika Irak "dipromosikan" untuk langsung menggantikan Iran, maka posisi Irak di playoff itu akan kosong. Siapa yang bisa mengisinya? Tentu saja UEA, yang sebelumnya dikalahkan Irak di babak kelima kualifikasi zona Asia. Semacam permainan kursi musik tingkat internasional.
Dengan skenario rumit seperti ini, peluang Timnas Indonesia untuk menyelip masuk terlihat sangat kecil, bahkan nyaris nihil. Garuda harus bersabar lebih lama lagi, menanti kesempatan di edisi 2030 mungkin, untuk kembali berjuang memperebutkan tiket ke pesta sepakbola terbesar di dunia itu.
Artikel Terkait
Arsenal Lolos ke Perempat Final Piala FA Usai Dihajar Ketat Mansfield 2-1
Malut United vs PSM Makassar Berakhir Imbang 3-3, Gol Kemenangan David da Silva Dibatalkan VAR
Drama VAR Tuntaskan Laga Seru, Malut United dan PSM Imbang 3-3
PSM Makassar Lakukan Restrukturisasi Teknis, Zulkifli Syukur Jadi Direktur Teknik