Namun begitu, ada satu suara yang berhasil meredakan situasi. Kapten Senegal, Sadio Mane, dikabarkan menjadi penengah. Dialah yang membujuk tim untuk kembali ke lapangan dan menyelesaikan pertandingan. "Ini tentang harga diri dan bangsa kita. Kita harus menang dengan cara yang benar," begitu kira-kira pesan Mane, seperti yang diungkapkan seorang official tim.
Penalti itu akhirnya dieksekusi di menit ke-90 24 sangat, sangat telat. Brahim Diaz, sang eksekutor, memilih trik tembakan Panenka. Sayang untuk Maroko, kiper Edouard Mendy sudah membaca arahnya. Dengan tenang, kiper Chelsea itu mendarat di posisi tepat dan menepis bola. Suara gemuruh dari pendukung Senegal langsung memecah kesunyian.
Momen itu jadi pembalik keadaan. Momentum sepenuhnya berpindah. Di babak perpanjangan waktu, tepatnya menit 94, Pape Gueye muncul sebagai pahlawan. Gelandang Villarreal itu merayakan gol tunggal penentu kemenangan. 1-0 untuk Senegal!
Jadi, inilah gelar Piala Afrika kedua bagi Singa Afrika. Mereka sebelumnya juga juara di tahun 2021. Kemenangan di Rabat malam ini mungkin yang paling dramatis dan penuh liku dalam sejarah turnamen. Bukan cuma soal teknik, tapi juga ujian mental dan karakter. Dan mereka lulus dengan gemilang.
Artikel Terkait
Gerrard dan Carragher Desak Slot Jadikan Ngumoha Starter Gantikan Gakpo
Duel Nadeo vs Ernando: Kiper Timnas Jadi Penentu Laga Borneo FC vs Persebaya
Persipal Palu Dikabarkan Akan Dijual dan Berpotensi Pindah ke Jawa
Rumor Kepulangan Asnawi ke Liga 1: Persib dan Persija Berebut, Hubungan dengan Yuriska Jadi Faktor?