“Tapi setelah saya mengenal mereka lebih dekat, saya mulai belajar dari mereka juga,” akunya. “Saya melihat mereka tidak terlalu menyukai perilaku seperti itu, dan saya juga melihat mereka sangat memahami sepak bola.”
Di sinilah dia tercengang. Menurut pengamatannya, pemahaman sepak bola generasi muda Barcelona ini jauh lebih matang ketimbang pemain seusia mereka di masa lalu. Bukan cuma soal teknik, melainkan juga kecerdasan membaca permainan dan empati di lapangan.
“Empati dan semua hal di sekitar sepak bola itu jauh lebih berkembang sekarang, dan itu sangat membantu saya juga,” katanya.
Faktor usia pun jadi bahan perenungan. Lewandowski tersadar, dirinya bahkan lebih tua dari ayah beberapa rekan setimnya. Jarak generasi itu nyata, dan itu menuntut penyesuaian sikap dari kedua belah pihak.
Kesadaran itulah yang akhirnya membawanya pada sebuah keputusan. Alih-alih hanya menggurui, dia memilih untuk beradaptasi dan membuka diri.
“Di situ saya berkata ke diri sendiri, ‘Ayo, saya juga harus belajar dari mereka’,” pungkas Lewandowski. Sebuah pengakuan yang jarang dari bintang sekalibernya, sekaligus pelajaran berharga tentang kepemimpinan di era baru.
Artikel Terkait
Persebaya Vs PSM: Nostalgia Tavares dan Ambisi Balas Dendam di Derbi Panas
Sorloth Cetak Hattrick, Atletico Madrid Lolos ke 16 Besar Liga Champions
Quartararo: Wajah Razgatlioglu Kecewa Usai Tes Pramusim MotoGP yang Berat
Achraf Hakimi Jalani Persidangan Atas Tuduhan Pemerkosaan di Paris