“Tapi setelah saya mengenal mereka lebih dekat, saya mulai belajar dari mereka juga,” akunya. “Saya melihat mereka tidak terlalu menyukai perilaku seperti itu, dan saya juga melihat mereka sangat memahami sepak bola.”
Di sinilah dia tercengang. Menurut pengamatannya, pemahaman sepak bola generasi muda Barcelona ini jauh lebih matang ketimbang pemain seusia mereka di masa lalu. Bukan cuma soal teknik, melainkan juga kecerdasan membaca permainan dan empati di lapangan.
“Empati dan semua hal di sekitar sepak bola itu jauh lebih berkembang sekarang, dan itu sangat membantu saya juga,” katanya.
Faktor usia pun jadi bahan perenungan. Lewandowski tersadar, dirinya bahkan lebih tua dari ayah beberapa rekan setimnya. Jarak generasi itu nyata, dan itu menuntut penyesuaian sikap dari kedua belah pihak.
Kesadaran itulah yang akhirnya membawanya pada sebuah keputusan. Alih-alih hanya menggurui, dia memilih untuk beradaptasi dan membuka diri.
“Di situ saya berkata ke diri sendiri, ‘Ayo, saya juga harus belajar dari mereka’,” pungkas Lewandowski. Sebuah pengakuan yang jarang dari bintang sekalibernya, sekaligus pelajaran berharga tentang kepemimpinan di era baru.
Artikel Terkait
Sugiono Terpilih Aklamasi Pimpin IPSI, Erick Thohir Dorong Pencak Silat Go Internasional
Prabowo Minta Maaf Gagal Bawa Pencak Silat ke Olimpiade, Serahkan Estafet ke Sugiono
Timnas Futsal Indonesia Runner-up Piala AFF 2026, Takluk 1-2 dari Thailand
Genoa Menang Dramatis 2-1 Atas Sassuolo dalam Laga Penuh Insiden