Balas Dendam dan Nostalgia di Surabaya
Udara di Surabaya terasa berbeda menjelang duel PSM Makassar melawan Persebaya. Ini bukan cuma soal tiga poin di klasemen. Lebih dari itu, ada aroma balas dendam dan gengsi dua raksasa yang akarnya sama-sama tertanam sejak era perserikatan dulu. Pertarungannya pasti panas.
Di kubu tamu, pelatih Tomas Trucha mengakui jadwal anak asuhnya memang padat. Empat laga dalam 16 hari bukan perkara mudah. Tapi dia bersikeras, alasan itu tak boleh jadi tiket untuk kehilangan poin lagi. "Kami sudah analisis lawan," ujarnya, Selasa (24/2/2026). "Kami nggak bisa cuma menunggu. Harus bertarung untuk setiap poin yang ada."
Menurutnya, kekalahan di beberapa laga terakhir harus jadi pelajaran. Momentum untuk berbenah.
Ada cerita menarik di balik pertandingan ini. Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, punya sejarah panjang dengan PSM. Tiga setengah tahun membesut Juku Eja, bahkan membawa mereka juara. Trucha mengakui hal itu. "Dia tahu betul tim dan kultur kami," katanya. Tapi bagi pelatih asal Ceko itu, itu cuma bumbu. Di lapangan, semuanya kembali profesional. "Mereka siapkan timnya, kami juga sama. Titik."
Soal performa, Trucha menyoroti satu hal: servis. Dia mengaku timnya sempat payah memaksimalkan bola-bola mati itu. "Servis bagian penting dari permainan. Saya kira kami punya masalah yang mirip dengan lawan. Kedua pelatih pasti berusaha memperbaiki ini," ucapnya. Nah, besok malam, siapa yang perbaikan servisnya lebih efektif, bisa jadi penentu.
Kapten PSM, Yuran Fernandes, mengamini. Laga besok berat, tapi kesiapan sudah maksimal. "Kami sudah tingkatkan hal-hal dari laga sebelumnya. Lawan punya pemain bagus, tapi kami juga punya. Kami harus kasih yang terbaik," tegasnya.
Artikel Terkait
Inter Milan Tersingkir dari Liga Champions Usai Dikalahkan Bodo/Glimt
Tavares Tegaskan Fokus Penuh Bawa Persebaya Taklukkan Mantan Klub PSM
Leverkusen dan Newcastle Amankan Tikel 16 Besar Liga Champions
Sorloth Cetak Hattrick, Atletico Madrid Lolos ke 16 Besar Liga Champions