Meski merayakan di rumah masing-masing, para pemain tetap harus menjaga pola makan. “Kamu harus mengontrol apa yang kamu makan karena ada pertandingan. Kamu tidak ingin Sir Alex berada di depan wajahmu jika kalah… atau berat badanmu naik beberapa kilo,” tuturnya tegas.
Inilah keseimbangan khas sepak bola Inggris. Kebersamaan dan keakraban dijaga, tapi profesionalisme adalah harga mati. Sebuah pendekatan yang rupanya masih relevan hingga sekarang.
Pep Guardiola, sang arsitek Manchester City, baru-baru ini menggemakan hal serupa. Dia dengan terang-terangan akan memantau berat badan para pemainnya selama liburan.
“Pada tanggal 25, saya akan berada di sana mengontrol berapa kilo yang bertambah,” ucap Guardiola.
Dia memberi peringatan yang gambal. Pemain boleh menikmati hidangan Natal, tapi ada konsekuensinya.
“Saya harus memilih pemain untuk pertandingan tanggal 27 Desember. Bayangkan ada pemain yang kondisinya sempurna, lalu datang dengan berat bertambah tiga kilo. Dia akan tinggal di Manchester. Tidak akan berangkat ke Nottingham Forest,” tegasnya.
Jadi, begitulah. Dari Ferguson ke Guardiola, semangatnya tetap sama. Natal dirayakan, kebersamaan dibangun, tapi fokus pada tugas di lapangan tak boleh goyah sedetik pun. Sebuah pelajaran sederhana tentang keseimbangan, yang justru itulah yang paling sulit.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Waspadai Ancaman Saint Kitts and Nevis di FIFA Series 2026
Herdman Uji Strategi Baru Timnas Indonesia Tanpa Playmaker di FIFA Series
Hargreaves Sarankan Liverpool Rekrut Michael Olise untuk Gantikan Mohamed Salah
Tim Geypens Masuk Skuad, Dean James Dicoret Jelang FIFA Series