Kini, semua itu berakhir. Di final, ia mengalahkan rekan senegaranya, Supanida Katethong, dengan dua game langsung: 21-19 dan 21-7. Dahaga itu akhirnya terlampiaskan.
Usai pertandingan, emosi Intanon tak terbendung. Dia duduk membungkuk di lapangan, menangis. Bukan cuma karena menang, tapi karena ini adalah perpisahan.
Di sisi lain, usianya yang sudah menginjak 30 tahun jadi pertimbangan. SEA Games lebih sering diisi atlet-atlet muda. Waktunya baginya untuk memberi jalan.
Selain di tunggal, Intanon juga sukses membawa tim beregu putri Thailand meraih emas. Itu menjadi medali emas keempatnya di nomor beregu. Sebuah akhir karier SEA Games yang sempurna, penuh dengan air mata kelegaan dan ucapan selamat tinggal.
Artikel Terkait
PSIS Semarang Berbenah, Alfredo Vera Dikabarkan Jadi Arsitek Baru
Penalti Gagal, Como Gagal Tundukkan Atalanta yang 10 Pemain
Drama Injury Time, Manchester United Selamatkan Tiga Poin di Old Trafford
Persebaya Butuh Taring, Sananta Jadi Solusi Reuni dengan Tavares?