JAKARTA – Ridho Rahmadi, seorang ahli kecerdasan buatan, memberikan keterangan sebagai saksi ahli yang meringankan Roy Suryo dan kawan-kawannya. Kasusnya soal tuduhan pemalsuan ijazah Presiden Joko Widodo. Di hadapan penyidik Polda Metro Jaya, Rabu (28/1/2026), Ridho bersikukuh bahwa penelitian tim Roy Suryo itu bersifat ilmiah.
“Apa yang dilakukan oleh RRT – maksudnya Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Dokter Tifa – itu adalah penelitian ilmiah,” tegas Ridho usai diperiksa.
Dia melanjutkan, “Bangunan risetnya itu memenuhi standar dalam kacamata saya. Sudah memenuhi standar secara umum dalam dunia penelitian.”
Ridho kemudian memberi penekanan khusus pada kontribusi Dokter Tifa. Menurutnya, ada 35 tabel studi tentang neuropolitika dan neurosains yang disusun. “Kajian ini sudah mature, sudah dewasa, established secara keilmuan. Bukan hal yang baru,” ujarnya.
Dengan nada prihatin, dia menambahkan, “Jadi seharusnya ini diganjar dengan rekognisi. Jangan sampai dikriminalisasi.”
Tak hanya memberikan kesaksian lisan, Ridho mengaku terlibat lebih jauh. Dia telah melakukan anotasi atau memberi catatan pada buku “Jokowi’s White Paper”. Tujuannya, untuk menjelaskan baris kode program yang dibuat oleh Rismon Sianipar.
Lalu, bagaimana dengan peran Roy Suryo? Ridho melihatnya dari sudut penyampaian. Menurutnya, garis besar analisis Roy Suryo sebenarnya sama dengan yang dilakukan Rismon. Hanya saja, Roy Suryo punya cara sendiri.
“Beliau menyampaikannya dalam bahasa sains populer. Bahasa yang lebih gampang dipahami awam,” kata Ridho, merangkum perbedaannya.
Pemeriksaan ini menjadi bagian dari proses hukum yang sedang berjalan. Ridho berharap pendapatnya sebagai ahli bisa memberikan perspektif berbeda bagi penyidik.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun