Infantino Dihadiahi Trump Penghargaan Perdamaian FIFA, Kontroversi Langsung Menyeruak

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 19:54 WIB
Infantino Dihadiahi Trump Penghargaan Perdamaian FIFA, Kontroversi Langsung Menyeruak

Di tengah kemeriahan acara pengundian grup Piala Dunia 2026 di Washington DC, Sabtu dini hari waktu Indonesia, sebuah kejutan kontroversial terjadi. Presiden FIFA, Gianni Infantino, menganugerahkan FIFA Peace Prize yang baru dibuat itu kepada Donald Trump. Langkah ini langsung memantik gelombang kritik dan menyeret nama Infantino ke dalam tuduhan pelanggaran kode etik.

Penghargaan perdamaian FIFA sendiri merupakan terobosan baru. Tujuannya, menghormati individu yang dianggap berjasa memajukan perdamaian dan menyatukan orang lewat sepak bola. Dan Trump tercatat sebagai penerima pertamanya.

Dalam pidatonya, Infantino memuji mantan presiden AS itu.

"Anda sungguh pantas menerima FIFA Peace Prize yang pertama. Atas tindakan Anda, atas apa yang telah Anda peroleh. Tapi Anda memperolehnya dengan cara yang luar biasa," ujarnya.

"Bapak Presiden, Anda selalu dapat mengandalkan dukungan saya, dukungan seluruh komunitas sepak bola. Untuk membantu Anda mewujudkan perdamaian dan memakmurkan seluruh dunia," imbuh Infantino.

Namun begitu, pemberian penghargaan itu di sela acara teknis seperti drawing grup dinilai janggal oleh sejumlah pihak. Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, mengaku heran.

"Ini seperti pertunjukan aneh," katanya, seperti dikutip media Norwegia.

Kritik lebih keras datang dari mantan pejabat PBB, Craig Mokhiber. Ia menyebut momen itu memalukan dan terkesan sebagai upaya mengaburkan catatan dukungan Trump kepada Israel serta isu pelanggaran HAM lain.

"Tidak puas dengan dua tahun keterlibatan FIFA dalam genosida di Palestina, Infantino dan kroni-kroninya kini telah menciptakan 'hadiah perdamaian' baru untuk menjilat Donald Trump," tegas Mokhiber.

Menurut laporan, beberapa eksekutif senior FIFA pun terkejut. Pengumuman penghargaan disebut dilakukan secara terburu-buru. Banyak yang melihat ini sebagai cara Infantino menyenangkan Trump, yang sebelumnya gagal meraih Nobel Peace Prize.

Di sisi lain, mantan Ketua Komite Tata Kelola FIFA, Miguel Maduro, secara tegas menyebut ini pelanggaran. Ia mendesak Komite Etik FIFA untuk mengusutnya.

"Fakta bahwa FIFA memberikan Peace Prize sama sekali tidak bermasalah. Masalah muncul ketika hadiah tersebut diberikan kepada seseorang yang aktif di dunia politik. Maka terjadilah pelanggaran netralitas politik," jelas Maduro.

"Pertama, FIFA mengambil sikap politik terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh aktor politik, dalam hal ini Trump. Dan kedua, memberikan penghargaan kepada seseorang yang aktif di dunia politik juga merupakan tanda politik," tambahnya.

Pelanggaran statuta FIFA memang bukan main-main. Bisa memicu penyelidikan oleh Komite Etik yang independen. Sanksinya beragam, mulai dari peringatan, denda, hingga larangan beraktivitas di dunia sepak bola.

Tapi saat ini, belum ada tanda-tanda penyelidikan resmi dimulai. Ketika ditekan untuk menanggapi tuduhan pelanggaran netralitas politik, FIFA memilih bungkam. Diam.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar