Bendera Kacau Lagi, Situs SEA Games Thailand Salah Tampilkan Merah-Putih

- Rabu, 03 Desember 2025 | 13:36 WIB
Bendera Kacau Lagi, Situs SEA Games Thailand Salah Tampilkan Merah-Putih

Insiden Bendera Warnai Persiapan SEA Games 2025 Thailand

Belum juga dimulai, SEA Games 2025 di Thailand sudah tersandung masalah. Situs web resmi turnamen yang digelar Desember nanti ternyata memuat kesalahan yang cukup memalukan, terutama soal bendera Indonesia.

Media Thailand, Matichon, yang pertama kali melaporkan. Mereka menemukan jadwal pertandingan futsal untuk tanggal 4 Desember 2025 di situs tersebut. Laga antara Indonesia dan Thailand di Stadion Chonburi itu seharusnya jadi tontonan seru. Namun, yang muncul justru kekacauan simbol.

Timnas Futsal Thailand ditampilkan dengan bendera Vietnam. Parahnya, Timnas Futsal Indonesia malah dikasih bendera Laos. Sungguh salah yang fatal.

Kesalahan ini langsung memicu kritik pedas di dalam negeri Thailand sendiri. Sejumlah tokoh olahraga mereka geram. Mereka bilang, kejadian seperti ini bisa mencoreng reputasi Thailand sebagai tuan rumah.

Menurut sejumlah saksi, masalah salah bendera ini seolah jadi momok yang terus berulang di SEA Games. Rasanya, hampir setiap edisi ada saja ceritanya.

Ingat SEA Games 2023 di Kamboja? Saat pra-upacara pembukaan, bendera Indonesia terpampang terbalik. Bukan cuma satu, tapi tiga bendera Merah-Putih yang salah arah. Sungguh memalukan.

Kalau mundur lagi ke 2019, Filipina sebagai tuan rumah juga melakukan kesalahan serupa. Untuk laga floorball putri melawan Indonesia, mereka salah memasang bendera dan kode negara. Kesalahan terjadi di University of The Philippines Quezon City.

Dan jangan lupa SEA Games 2017. Dalam buku panduan yang disebar saat upacara pembukaan, bendera Indonesia lagi-lagi terbalik. Bahkan, siaran televisi saat itu juga salah menampilkan bendera sejumlah negara.

Jadi, insiden di Thailand ini bukan hal baru. Tapi tentu saja, itu bukan alasan untuk dibiarkan. Persiapan sebuah event besar harusnya mencakup hal-hal mendetail seperti ini. Agar tidak menyinggung perasaan bangsa lain, dan tentu saja, agar tidak jadi bahan tertawaan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar