Trump Perintahkan Uji Coba Senjata Nuklir, China Langsung Beri Respons Tegas
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan telah memerintahkan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) untuk segera memulai uji coba senjata nuklir. Pengumuman ini langsung memicu reaksi internasional, termasuk dari pemerintah China.
Perintah uji coba nuklir Trump ini disampaikan melalui platform media sosial Truth Social. Pengumuman ini terjadi saat dia sedang berada di Korea Selatan untuk menghadiri KTT APEC dan melakukan pertemuan penting dengan Presiden China Xi Jinping.
Isi Pernyataan Trump Soal Uji Coba Nuklir
Dalam pernyataannya, Trump menyatakan bahwa AS memiliki lebih banyak senjata nuklir daripada negara lain. Dia mengklaim keunggulan ini dicapai, termasuk melalui pembaruan total senjata yang ada, selama masa jabatan pertamanya.
"Karena daya rusaknya yang luar biasa, saya SANGAT TIDAK SUKA melakukannya, tetapi tidak punya pilihan!" tulis Trump.
Dia juga menyoroti posisi Rusia di peringkat kedua dan China di peringkat ketiga dalam hal kepemilikan nuklir, dengan pernyataan bahwa China akan menyusul dalam waktu 5 tahun. Alasan inilah yang disebutnya mendasari keputusannya: "Karena negara-negara lain sedang menguji program, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk memulai uji coba senjata nuklir kita secara setara. Proses itu akan segera dimulai."
Respons Tegas China Terhadap Rencana Trump
China langsung merespons pernyataan Trump tersebut. Pemerintah Beijing melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengingatkan Washington untuk "secara sungguh-sungguh mematuhi" larangan uji coba nuklir global.
Guo menegaskan bahwa China mengharapkan Amerika Serikat mematuhi kewajiban perjanjian larangan uji coba nuklir komprehensif dan komitmennya terhadap larangan uji coba nuklir. China juga mendesak AS untuk mengambil tindakan nyata guna menjaga sistem perlucutan senjata dan nonproliferasi nuklir global, serta menjaga keseimbangan dan stabilitas strategis di dunia.
Kebijakan Trump ini diprediksi akan memicu ketegangan baru dalam dinamika keamanan global dan diplomasi internasional terkait pengendalian senjata nuklir.
Artikel Terkait
Jalan Lenteng Agung Amblas Bertahap Sejak Rabu, Kemacetan Parah di Akses Jakarta-Depok
Layanan SIM Keliling di Bandung Kembali Dibuka di Dua Mal, Biaya Perpanjangan Rp75 Ribu-Rp80 Ribu
BMKG: Sebagian Wilayah Jakarta Berpotensi Hujan Ringan Siang hingga Malam
AS dan Iran Saling Bantah Klaim Capai Nota Kesepahaman Awal soal Gencatan Senjata dan Nuklir