Trump Desak Pentagon Uji Coba Senjata Nuklir, Balas Klaim Rudal 'Tak Terbatas' Rusia
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi memerintahkan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) untuk segera memulai pengujian senjata nuklir. Permintaan ini muncul sebagai respons langsung atas pengumuman dan uji coba senjata nuklir terbaru yang dilakukan oleh Rusia.
Rusia Pamer Rudal Nuklir 'Burevestnik' dengan Jangkauan Tak Terbatas
Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim keberhasilan uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir baru, Burevestnik, yang disebutnya sebagai senjata 'unik' dan tidak dimiliki oleh negara mana pun di dunia. Dalam pernyataannya, Putin menekankan bahwa rudal ini memiliki jangkauan operasional yang hampir tak terbatas, mencapai 14.000 kilometer.
Putin menyatakan bahwa pengujian krusial rudal Burevestnik telah selesai dan memerintahkan persiapan infrastruktur untuk memasukkan senjata strategis ini ke dalam angkatan bersenjata Rusia. Otoritas militer Rusia juga mengklaim bahwa rudal ini mampu menghindari semua sistem pertahanan rudal yang ada saat ini dan di masa depan, menjadikannya senjata yang "tak terkalahkan".
Trump Sindir Putin: Akhiri Perang Ukraina, Bukan Uji Rudal
Menanggapi hal ini, Donald Trump menyampaikan kritik pedas. Dari pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menyindir Putin bahwa yang seharusnya dilakukan adalah mengakhiri perang di Ukraina, bukan melakukan uji coba rudal.
"Dia seharusnya mengakhiri perang. Perang yang seharusnya berlangsung selama satu minggu, saat ini akan segera memasuki tahun keempat. Itulah yang seharusnya dia lakukan, alih-alih menguji coba rudal," ujar Trump.
Rusia Lanjutkan Uji Coba dengan Senjata Bawah Air 'Poseidon'
Merespons sindiran Trump, Putin justru melanjutkan demonstrasi kekuatan militernya dengan mengumumkan uji coba sukses lainnya. Kali ini, Rusia menguji "Poseidon", sebuah perangkat bawah air tak berawak (UUV) bertenaga nuklir.
Putin menyatakan bahwa tidak ada cara untuk mencegat torpedo nirawak ini. Poseidon diklaim dapat beroperasi di kedalaman lebih dari satu kilometer, melaju dengan kecepatan hingga 70 knot, dan mampu mencapai benua mana pun di dunia sambil membawa hulu ledak nuklir yang sangat besar.
Dengan pengumuman senjata-strategis baru ini, ketegangan dalam lomba senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia kembali memanas, menandai babak baru dalam dinamika keamanan global.
Artikel Terkait
Menteri Imipas: Bapas Bukan Sekadar Administrasi, Melainkan Jantung Reintegrasi Sosial
Pramono Anung Siapkan Jalan Rasuna Said sebagai Lokasi Baru Car Free Day Jakarta
Menteri Imigrasi: KUHP dan KUHAP Baru Jadi Revolusi Paradigma, Bukan Sekadar Ubah Aturan
Sahroni Usul Masa Jabatan Polri di Lembaga Sipil Maksimal Tiga Tahun