Tokoh adat Lampung Pepadun Suttan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama, angkat bicara terkait prosesi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menginjak kepala kerbau saat menerima gelar adat di Lampung. Mawardi meminta masyarakat tidak mengaitkan prosesi adat tersebut dengan kepentingan politik.
Mawardi menjelaskan, prosesi menginjak kepala kerbau merupakan bagian dari rangkaian adat Begawi Cakak Pepadun atau Munggah Bumi yang telah diwariskan turun-temurun. Ritual itu memiliki makna filosofis sebagai simbol menghilangkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia.
"Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam diri, seperti sifat sombong, iri dengki, tamak, dan sifat buruk lainnya. Jadi tidak ada hubungan dengan politik," kata Mawardi, Senin (29/6/2026).
Menurut Mawardi, tradisi meletakkan jari kaki di atas kepala kerbau bukanlah bentuk penghinaan terhadap hewan, melainkan simbol adat yang telah dijalankan secara turun-temurun dalam prosesi pemberian gelar.
Mawardi juga menepis anggapan yang mengaitkan dominasi warna merah di lokasi prosesi dengan kelompok politik tertentu. Menurutnya, warna tersebut memang menjadi bagian dari ornamen di Kedatun Keagungan.
"Memang di Kedatun Keagungan karpetnya merah semua. Lihat di tangga, di jalan menuju museum, semuanya karpet merah. Jadi bukan ditujukan kepada kelompok tertentu," tegasnya.
Artikel Terkait
Realisasi KUR Capai Rp147,7 Triliun, Pemerintah Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Digitalisasi
Wamendagri: DPRD Provinsi Harus Pastikan SDA Beri Manfaat Maksimal bagi Masyarakat Lokal
15 Wisata Edukasi di Malang Raya untuk Liburan Sekolah yang Berkesan
Pemprov DKI Bangun 11 Rusun Baru, Dua Segera Dikerjakan