Gelombang Panas Ekstrem, Prancis Matikan Tiga Reaktor Nuklir demi Lindungi Ekosistem Sungai

- Jumat, 26 Juni 2026 | 11:00 WIB
Gelombang Panas Ekstrem, Prancis Matikan Tiga Reaktor Nuklir demi Lindungi Ekosistem Sungai

Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis memaksa otoritas setempat mengambil langkah darurat yang tidak biasa: mematikan sejumlah reaktor nuklir. Langkah ini diambil untuk mencegah pembuangan air panas dalam jumlah besar ke sungai-sungai yang suhunya sudah meningkat drastis akibat cuaca ekstrem.

Perusahaan penyedia energi utama Prancis, EDF, mengumumkan bahwa dua reaktor nuklir tambahan telah dimatikan pada Kamis (25/6) waktu setempat. Dengan demikian, total sudah tiga reaktor nuklir yang dinonaktifkan imbas suhu panas yang melanda negeri itu.

Masing-masing satu reaktor pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bugey di Prancis bagian timur dan PLTN Nogent-sur-Seine di timur laut Paris dihentikan operasinya karena kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan. Sebelumnya, sebuah reaktor di PLTN Golfech, Prancis barat daya, sudah lebih dulu dinonaktifkan pada Senin (22/6). EDF juga mengurangi produksi dari sebuah reaktor di PLTN Saint-Alban.

PLTN yang menjadi tulang punggung produksi listrik Prancis selama ini menggunakan air sungai untuk mendinginkan reaktor. Proses ini memanaskan air yang kemudian dialirkan kembali ke sungai. Dalam kondisi normal, hal itu masih dapat ditoleransi. Namun, ketika suhu sungai sudah tinggi akibat gelombang panas, pembuangan air panas berlebih bisa mengancam ekosistem perairan.

Keputusan mematikan reaktor-reaktor itu merupakan bentuk kepatuhan terhadap peraturan lingkungan yang membatasi peningkatan suhu air sungai yang digunakan untuk mendinginkan fasilitas nuklir. Aturan ini dirancang untuk melindungi biota air dari tekanan panas yang berlebihan.

Di Paris, otoritas setempat juga memberlakukan larangan konsumsi dan pembatasan penjualan minuman beralkohol selama gelombang panas berlangsung. Langkah ini diambil di tengah kondisi rumah sakit yang kewalahan menangani pasien akibat cuaca ekstrem.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.