Kekhawatiran akan potensi kenaikan harga obat-obatan kimia mendorong warga Semarang, Jawa Tengah, untuk kembali mengandalkan minuman herbal berbahan rempah-rempah sebagai alternatif menjaga daya tahan tubuh dengan biaya yang lebih terjangkau. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya kunjungan ke kedai-kedai minuman tradisional yang menyajikan racikan alami seperti jahe dan kunyit.
Salah satu tempat yang menjadi tujuan warga adalah kedai Jahe Rempah Mbah Warno. Pengunjung datang silih berganti untuk menikmati khasiat ramuan tradisional di tengah beragamnya pilihan obat modern yang beredar di pasaran. Suryoko, pengelola kedai tersebut, mengungkapkan bahwa peminat minuman herbal tidak pernah surut meskipun obat medis kini semakin mudah didapatkan.
Menurut Suryoko, jahe menjadi primadona bagi pelanggan karena dipercaya mampu meredakan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari masuk angin, pegal-pegal, flu, batuk, hingga masalah tenggorokan. Selain jahe, kedai ini juga menyajikan varian rempah lain seperti kunyit, temu lawak, kencur, dan temu mangga yang masing-masing memiliki khasiat tersendiri.
Dari segi ekonomi, minuman herbal ini jauh lebih ramah di kantong dibandingkan obat-obatan yang dijual di apotek. Satu gelas jahe rempah dibanderol mulai dari harga Rp8.000, sebuah angka yang sangat kompetitif bagi masyarakat luas yang ingin tetap menjaga kesehatan tanpa membebani anggaran belanja.
Suryoko memberikan catatan penting bahwa cara kerja herbal berbeda dengan obat kimia yang memberikan efek instan. Ia menjelaskan bahwa khasiat minuman rempah dirasakan secara bertahap oleh tubuh.
"Khasiatnya tidak secepat (obat) kimia. Karena ini herbal, jadi prosesnya bertahap, tidak langsung terasa seperti kalau kita minum obat kimia," ujar Suryoko dalam wawancara yang dikutip pada Jumat, 19 Juni 2026.
Tren peralihan warga ke minuman tradisional ini menegaskan bahwa herbal tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Di tengah dinamika harga pengobatan medis, ramuan alami hadir sebagai solusi preventif dan kuratif yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga diwariskan secara turun-temurun.
Artikel Terkait
Ketua Komisi Yudisial Abdul Chair Ramadhan Dianugerahi Gelar Kebangsawanan Tertinggi Kasunanan Surakarta
Polisi Pastikan Penangkapan Roy Suryo dan dr. Tifa Setelah Berkas Kasus Ijazah Palsu Jokowi Dinyatakan Lengkap
Jembatan Akelamo dan Dermaga Panji Baru Perkuat Konektivitas dan Dorong Ekonomi Masyarakat di Pulau Obi
Wamendagri Dorong Praja IPDN Asah Kompetensi Hadapi Peluang Jadi Kepala Daerah