Dini hari tadi, dua kapal perang Jerman, yakni kapal penyapu ranjau Fulda dan kapal pendukung Mosel, melintasi Terusan Suez sebagai langkah awal dari persiapan operasi militer yang belum sepenuhnya pasti. Kementerian Pertahanan Jerman di Berlin mengonfirmasi bahwa kedua kapal tersebut sebelumnya telah bertugas di kawasan Mediterania timur. Dalam lima hingga tujuh hari ke depan, armada Bundeswehr dijadwalkan melintasi Laut Merah dan singgah di pelabuhan Djibouti, tempat sekitar 140 personel Angkatan Laut Jerman akan bersiap menghadapi kemungkinan operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz.
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, di Brussel, Belgia, pada Kamis pagi menyatakan bahwa perintah penempatan ini dikeluarkan sebagai persiapan bagi “kemungkinan misi damai di Selat Hormuz.” Kata “kemungkinan” menjadi kunci, sebab hingga kini belum semua persyaratan terpenuhi. Meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata untuk melanjutkan perundingan damai, syarat utama yang diajukan Kementerian Pertahanan Jerman mencakup berakhirnya pertempuran secara berkelanjutan, adanya dasar hukum internasional, serta mandat dari parlemen Jerman, Bundestag. Sesuai aturan, setiap pengerahan militer bersenjata Bundeswehr ke luar negeri harus memperoleh persetujuan parlemen.
Keahlian Jerman dalam pembersihan ranjau laut diakui sebagai salah satu keunggulan Bundeswehr. “Dalam hal ini kami memiliki banyak pengalaman,” ujar Johannes Peters, pakar keamanan maritim dari Institut Kebijakan Keamanan Universitas Kiel. Menurut Peters, Laut Utara dan Laut Baltik merupakan dua kawasan laut di dunia dengan jumlah terbesar sisa bahan peledak dari Perang Dunia I dan II yang belum meledak. Jutaan objek seperti ranjau, amunisi, dan berbagai jenis bahan peledak masih berada di dasar laut. “Karena kawasan itu pada dasarnya adalah wilayah operasi kami, kami memiliki keahlian besar, termasuk dalam menangani dan membersihkan bom yang gagal meledak,” katanya.
Sementara itu, situasi di Selat Hormuz semakin memanas setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Iran secara de facto menutup selat tersebut dengan menyebarkan ranjau laut secara acak. Perusahaan perkapalan bereaksi dengan menunda atau menghindari Teluk Persia, yang berdampak pada anjloknya suplai minyak dan gas alam cair global. Di seluruh dunia, harga bahan bakar melonjak tajam. Agar jalur sempit itu bisa kembali dilalui kapal dagang, perang harus sepenuhnya berhenti dan ranjau yang telah disebar harus disapu.
Namun, “ranjau laut sangat sulit ditemukan,” kata Nitya Labh, pakar keamanan maritim dari lembaga kajian Chatham House di London. Menurut dia, terdapat berbagai jenis ranjau laut: ranjau yang mengapung di permukaan, ranjau yang ditambatkan di dasar laut tetapi tetap menggantung di dalam air dan meledak ketika mendeteksi kapal di sekitarnya, serta ranjau yang diletakkan langsung di dasar laut. Bahkan setelah posisi ranjau diketahui, proses pembersihannya bisa berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Perkaranya, Iran pun mengaku tidak mengetahui semua lokasi ranjau karena sebagian hanyut terbawa arus laut.
“Kami tidak mengetahui jumlah pasti ranjau, maupun area spesifik tempat ranjau tersebut ditempatkan. Jadi ada banyak ketidakpastian,” kata Johannes Peters. Dia menegaskan bahwa operasi pembersihan ranjau tidak bisa dilakukan dengan prosedur baku. Menempatkan ranjau laut dapat dilakukan dengan cepat, tetapi membersihkannya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. “Namun memang untuk itulah kapal pemburu ranjau dirancang,” ujarnya.
Kapal pemburu ranjau Angkatan Laut Jerman didesain untuk menemukan ranjau tanpa terdeteksi oleh perangkat pemicu ranjau itu sendiri. Kapal-kapal tersebut memiliki lambung dari baja nonmagnetis, karena banyak ranjau modern bereaksi terhadap medan magnet yang dihasilkan oleh kapal berbahan baja. Selain itu, suara baling-baling dan mesin kapal juga dapat memicu ledakan ranjau. Karena alasan itulah kapal pemburu ranjau mampu bergerak dengan sangat senyap. Sistem nirawak menjadi perangkat yang tak tergantikan dalam operasi semacam ini. Kapal seperti Fulda membawa drone permukaan jenis Seehund, yang dapat meniru jejak suara dan medan magnet kapal besar untuk memancing ranjau meledak. Drone bawah laut Seefuchs juga dapat mengidentifikasi sekaligus menghancurkan ranjau. Bila teknologi mencapai batas kemampuannya, penyelam ranjau akan diterjunkan.
Di sisi lain, salah satu syarat penting bagi terlaksananya misi pembersihan ranjau adalah persetujuan dari negara-negara sekitar, termasuk Oman, serta pihak-pihak yang terlibat konflik. “Iran tentu harus menyetujuinya,” kata Peters. “Mereka harus menerima bahwa angkatan laut negara lain membantu pembersihan ranjau di Selat Hormuz.” Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan sekitar 20 negara telah menyatakan komitmen konkret untuk berkontribusi dalam misi tersebut. Menurut Nitya Labh dari Chatham House, sangat penting bagi Jerman, Prancis, dan Inggris apabila ikut serta untuk menegaskan bahwa mereka bukan pihak dalam konflik dan tidak berpihak kepada Amerika Serikat maupun Iran. Dia juga menilai keterlibatan angkatan laut negara-negara Teluk seperti Oman atau Arab Saudi dalam misi tersebut akan menjadi langkah yang positif.
Apakah misi penyapuan ranjau di Selat Hormuz akan terlaksana juga bergantung pada implementasi kesepakatan kerangka antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan itu menjadi titik awal perundingan mengenai sejumlah persoalan yang masih diperdebatkan, terutama program nuklir Iran. Perundingan tersebut ditargetkan menghasilkan kesepakatan final dalam waktu 60 hari. Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Rabu sebelumnya telah meredam harapan akan dimulainya misi Bundeswehr dalam waktu dekat. Menurut perkiraannya, Bundestag baru akan membahas mandat operasi pada pekan sidang terakhir sebelum masa reses musim panas yang dimulai pada 6 Juli. Meski demikian, Angkatan Laut Jerman sudah mengambil posisi. “Kami siap. Jika saatnya tiba, kami akan siap,” kata Menteri Pertahanan Boris Pistorius. Apabila operasi benar-benar dimulai, kapal-kapal Jerman dapat segera bergerak menuju Selat Hormuz. Hingga saat itu, mereka tetap menjalankan tugas dalam misi maritim Uni Eropa ASPIDES yang mengawasi jalur pelayaran di Laut Merah.
Artikel Terkait
Petani Sawit Khawatir Margin Ekspor BUMN Tekan Harga Tandan Buah Segar
KPK Geledah Kantor Imigrasi Denpasar dalam Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA yang Jerat Mantan Wamen Imigrasi Silmy Karim
Roy Suryo dan Dokter Tifa Jalani Pemeriksaan Kesehatan Usai Ditangkap di Kasus Ijazah Jokowi
Messi dan David Bersaing Ketat di Puncak Top Skor Piala Dunia 2026 dengan Tiga Gol