Trump Ingin Bertemu Pemimpin Tertinggi Iran, Teheran Sebut Gagasan Itu Tidak Realistis

- Jumat, 05 Juni 2026 | 22:30 WIB
Trump Ingin Bertemu Pemimpin Tertinggi Iran, Teheran Sebut Gagasan Itu Tidak Realistis

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuka peluang untuk bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Namun, peluang itu langsung ditepis oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyebut gagasan tersebut tidak realistis. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang masih membara antara kedua negara setelah serangan mematikan yang menewaskan pemimpin Iran sebelumnya.

Dalam wawancara dengan New York Post, Trump mengaku ingin bertemu dengan Khamenei. “Ya, saya ingin bertemu dengannya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pertemuan mungkin terjadi suatu saat nanti, tergantung pada perkembangan situasi. Pernyataan itu disampaikan pada Jumat, 5 Juni 2026, dan langsung menjadi sorotan karena menunjukkan adanya celah diplomatik di tengah konflik yang berkepanjangan.

Sementara itu, Araghchi menanggapi pernyataan Trump dengan nada skeptis. Dalam wawancara dengan stasiun televisi Al Mayadeen yang ditayangkan pada Kamis malam, ia meremehkan kemungkinan pertemuan tersebut. “Saya melihat sebuah laporan yang tampaknya mengatakan bahwa dia (Trump) telah menyatakan bahwa dia siap untuk bertemu atau bahwa dia ingin mengadakan pertemuan,” kata Araghchi. “Saya pikir kita harus realistis dan berpikir serta hidup di dunia nyata,” lanjutnya, menegaskan bahwa tawaran itu tidak memiliki dasar yang kuat.

Diplomat utama Iran itu juga menceritakan pengalamannya saat serangan yang menewaskan Ali Khamenei, pemimpin sebelumnya. Saat itu, Araghchi berada di dalam kantor pemimpin, tepatnya di sayap lain gedung, sehingga selamat dari serangan. Peristiwa itu memicu respons keras dari Iran, yang kemudian meluncurkan serangan rudal dan drone ke Israel serta sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Dalam kesempatan yang sama, Araghchi menegaskan bahwa pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, memiliki kendali penuh atas urusan negara. “Kehadirannya sangat dekat dan efektif dalam urusan negara,” ujarnya, menandakan bahwa kepemimpinan Iran tetap solid meskipun mengalami pergantian di puncak kekuasaan. Sikap tegas ini sekaligus menutup pintu bagi spekulasi tentang kemungkinan rekonsiliasi dengan Washington dalam waktu dekat.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar