AS Dakwa Raul Castro Atas Pembunuhan, Picu Spekulasi Skenario Perubahan Rezim di Kuba

- Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:35 WIB
AS Dakwa Raul Castro Atas Pembunuhan, Picu Spekulasi Skenario Perubahan Rezim di Kuba

Amerika Serikat secara resmi mendakwa mantan Presiden Kuba, Raul Castro, yang kini berusia 94 tahun, dengan tuduhan pembunuhan, sebuah langkah yang langsung memicu spekulasi bahwa Washington tengah menyiapkan skenario perubahan rezim di Havana. Dakwaan tersebut dikaitkan dengan peristiwa penembakan dua pesawat sipil oleh pesawat tempur Kuba pada tahun 1996, sebuah tragedi yang kembali menjadi sorotan di tengah memburuknya hubungan bilateral. Momentum ini terjadi saat Kuba tengah menghadapi krisis bahan bakar dan energi paling parah dalam sejarahnya, kondisi yang oleh sejumlah pejabat Amerika Serikat dinilai sebagai peluang untuk mengakhiri pemerintahan komunis yang telah berlangsung selama 66 tahun di pulau tersebut.

Di tengah tekanan ekonomi yang semakin akut, retorika dari Gedung Putih menunjukkan sikap yang tampak kontradiktif. Presiden Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa “eskalasi” tidak diperlukan, namun di saat yang sama, pemerintahannya berikrar tidak akan menoleransi keberadaan “negara pelanggar” yang hanya berjarak 144 kilometer dari pantai Florida. Pernyataan ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai langkah apa yang akan diambil selanjutnya, apakah berupa keruntuhan ekonomi yang didiamkan, gejolak domestik yang dipicu dari luar, atau bahkan intervensi militer secara langsung.

Salah satu skenario yang paling santer diperbincangkan adalah kemungkinan penangkapan Raul Castro oleh pasukan khusus Amerika Serikat. Dakwaan yang diajukan langsung membuka spekulasi bahwa Washington dapat meluncurkan operasi untuk menangkap mantan pemimpin Kuba itu dan membawanya ke pengadilan Amerika. Operasi semacam ini bukanlah hal yang asing. Pada Januari lalu, pasukan komando AS sukses melancarkan operasi kilat di Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro, sekutu lama Kuba, dan membawanya ke New York untuk menghadapi dakwaan narkoba dan kepemilikan senjata. Sebelumnya, pada 1989, Operasi Just Cause yang melibatkan ribuan tentara AS berhasil menggulingkan dan menahan pemimpin Panama, Manuel Noriega.

Meskipun Trump menepis pertanyaan mengenai kemungkinan operasi serupa di Kuba, sejumlah anggota parlemen Amerika justru mendorongnya. Senator Florida, Rick Scott, secara terbuka menyatakan bahwa segala opsi tidak boleh dikesampingkan. “Hal yang sama yang terjadi pada Maduro seharusnya terjadi pada Raul Castro,” ujarnya kepada wartawan. Namun, para ahli menilai bahwa dari sudut pandang militer, meskipun memungkinkan, operasi penangkapan terhadap Castro sarat dengan risiko dan kerumitan. Adam Isacson, pakar regional dari Washington Office on Latin America, mengatakan bahwa usia lanjut Castro dan potensi perlawanan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.

“Dalam beberapa hal mungkin lebih mudah mengekstraksinya,” kata Isacson. “Dia punya nilai simbolis. Artinya, ia dijaga sangat ketat. Tetapi itu tentu memungkinkan.” Namun, ia juga menambahkan bahwa menyingkirkan Castro, yang telah mengundurkan diri sebagai presiden pada 2018, mungkin tidak akan berdampak signifikan terhadap struktur kekuasaan Kuba secara keseluruhan. “Saya pikir penangkapan itu tidak akan banyak mempengaruhi struktur kekuasaan di Kuba lagi. Dia berusia 94 tahun. Dinasti keluarga Castro berpengaruh, tetapi tidak lagi menjadi pusat dari apa yang mereka bangun,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa secara politik domestik, tindakan tersebut mungkin akan menjadi pukulan simbolis yang memuaskan keinginan untuk mempermalukan keluarga Castro, namun nilai strategisnya patut dipertanyakan.

Sementara itu, skenario kedua yang mengemuka adalah upaya Washington untuk mendorong perubahan rezim tanpa invasi militer. Pendekatan ini dinilai mirip dengan apa yang terjadi di Venezuela, di mana Delcy Rodriguez mengambil alih kekuasaan dari Maduro, namun struktur pemerintahan secara umum tetap utuh. Trump berulang kali mengklaim telah berhubungan dengan tokoh-tokoh di dalam Kuba yang mengharapkan bantuan AS di tengah krisis ekonomi. “Kuba meminta bantuan, dan kita akan berbicara,” tulisnya di platform Truth Social pada 12 Mei. Beberapa hari setelah pernyataan itu, Direktur CIA John Ratcliffe dilaporkan bertemu dengan pejabat Kuba, termasuk cucu Castro, Raul Guillermo Rodriguez Castro, dan Menteri Dalam Negeri, Lazaro Alvarez Casas.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa pihaknya akan terus berinteraksi dengan Kuba dan menekankan bahwa sistem yang ada saat ini tidak berjalan. Perubahan yang diinginkan AS, menurut Rubio, mencakup pembukaan ekonomi, peningkatan investasi asing, keterlibatan kelompok pengasingan Kuba, serta komitmen untuk mengakhiri kehadiran badan intelijen Rusia atau China di pulau tersebut. Namun, para pakar meragukan adanya figur dalam negeri Kuba yang siap mengambil alih peran seperti Delcy Rodriguez di Venezuela. Michael Shifter, profesor kajian Amerika Latin di Georgetown University, menilai bahwa kekuasaan di Kuba bekerja secara berbeda. “Saya tidak berpikir ada sosok seperti Delcy Rodriguez di Kuba,” katanya. “Sulit menemukan apa yang mereka cari, tetapi saya pikir mereka mencari semacam struktur pemerintahan.”

Kemungkinan ketiga yang paling realistis menurut sebagian pengamat adalah Kuba runtuh di bawah tekanan ekonomi yang semakin berat. Krisis yang berkepanjangan telah menyebabkan pemadaman listrik selama berjam-jam setiap hari dan kelangkaan pangan. Trump sendiri tampaknya lebih condong pada skenario ini. “Tidak akan ada eskalasi. Saya tidak berpikir itu diperlukan. Tempat itu sedang runtuh. Ini bencana, dan mereka telah kehilangan kendali sampai batas tertentu,” katanya. Namun, para ahli mengingatkan bahwa situasi di Kuba lebih kompleks dari sekadar keruntuhan ekonomi. Mekanisme kendali pemerintah terhadap penduduknya, terutama di sektor keamanan, sebagian besar masih tetap utuh.

“Anda harus membedakan antara ekonomi Kuba dengan negara serta pemerintah Kuba,” ujar Shifter. “Ekonomi Kuba dapat runtuh, dan memang sedang runtuh... tetapi negara masih berfungsi, terutama di sisi keamanan.” Keruntuhan total justru dapat menjadi bumerang bagi pemerintahan Trump jika memicu gelombang besar pengungsi Kuba menuju Florida. Mengingat kebijakan imigrasi yang ketat, hal ini akan menjadi tantangan serius. Adam Isacson memperkirakan bahwa jika terjadi keruntuhan, sebagian besar populasi Kuba akan berusaha pergi dengan segala cara. “Florida adalah tempat terdekat, tetapi saya juga memperkirakan sebagian orang akan menuju Meksiko,” katanya. Ia mengaku terkejut bahwa gelombang besar eksodus belum juga terjadi, mengingat warga Kuba diperkirakan bertahan hidup dengan asupan kalori yang sangat minim dan tanpa akses layanan kesehatan yang memadai. “Kami mengira orang-orang sudah mulai membangun perahu,” pungkasnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar