Pada 19 Mei lalu, Rusia menggelar latihan nuklir strategis berskala besar yang diberi nama sandi 'Guntur'. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa latihan ini bertujuan untuk mempersiapkan penggunaan kekuatan nuklir dalam menghadapi ancaman yang bersifat agresif. Langkah ini menjadi sorotan karena dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Ukraina dan negara-negara Barat.
Latihan tersebut melibatkan seluruh triade nuklir Rusia, yakni rudal balistik antarbenua, kapal selam nuklir, dan pembom strategis. Menurut keterangan resmi, lebih dari 64.000 personel dikerahkan bersama lebih dari 7.800 unit persenjataan dan peralatan militer. Jumlah itu mencakup lebih dari 200 peluncur rudal, 140 pesawat, 73 kapal, dan 13 kapal selam, di antaranya delapan kapal selam rudal strategis.
Angka tersebut merupakan bagian signifikan dari total kekuatan nuklir strategis Rusia. Berdasarkan perkiraan yang diterbitkan Buletin Ilmuwan Atom pada 2026, Rusia memiliki lebih dari 320 peluncur rudal, termasuk peluncur statis dan platform bergerak. Dari 13 kapal selam nuklir strategis yang dimiliki, delapan di antaranya ikut serta dalam latihan. Mengingat sebagian kapal selam biasanya dalam masa perbaikan atau pemeliharaan, delapan kapal itu dapat mencakup hampir seluruh armada kapal selam strategis yang siap tempur.
Latihan ini merupakan pengecualian dari pola tahunan Rusia yang biasanya mengadakan latihan nuklir pada bulan Oktober. Namun, sejak Februari 2022, sebelum invasi besar-besaran ke Ukraina, pola tersebut mulai berubah. Tahun ini, latihan dilakukan dalam konteks yang lebih tegang, terutama setelah serangan drone jarak jauh Ukraina ke wilayah Rusia.
Dua hari sebelum latihan militer, ibu kota Rusia, Moskow, mengalami serangan drone terbesar dalam sejarahnya. Serangan itu menewaskan tiga warga wilayah Moskow dan melukai 17 orang. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyebut serangan tersebut sebagai "respons yang adil" terhadap serangan rudal Rusia di Kyiv pada 14 Mei yang menewaskan 24 orang. Meskipun sumber resmi tidak menyebutkan hubungan langsung antara serangan drone dan latihan nuklir, secara teknis kekuatan nuklir strategis Rusia berada dalam keadaan siaga konstan dan dapat dikerahkan dengan cepat.
Sementara itu, sehari sebelum latihan nuklir strategis dimulai, militer Rusia melakukan manuver dengan senjata nuklir taktis yang ditempatkan di Belarus. Kementerian Pertahanan Belarus mengumumkan bahwa latihan ini bertujuan menguji kemampuan unit senjata nuklir untuk meluncurkan rudal dari area yang tidak dipersiapkan. Ini bukan pertama kalinya Belarus melakukan latihan serupa. Pada 2024, misalnya, satu batalyon rudal taktis Iskander dan satu skuadron Su-25 telah menjalani uji kesiapan tempur.
Rusia menempatkan hulu ledak nuklir taktis di Belarus pada 2023. Latihan di wilayah Belarus kerap menimbulkan kekhawatiran negara-negara Barat. Invasi Ukraina pada 2022, misalnya, dimulai dari wilayah Belarus. Bahkan sebelum invasi, NATO telah menganalisis kemungkinan skenario perang dengan Rusia yang diawali dengan manuver berskala besar di Belarus. Kekhawatiran ini sudah diungkapkan sejak 2017.
Di sisi lain, NATO mengadakan latihan tahunan dengan kekuatan udara yang dipersenjatai bom nuklir Amerika Serikat. Kekuatan udara tersebut berada di Italia, Belanda, Belgia, Jerman, dan Turki. Ketegangan antara Rusia dan NATO terus meningkat seiring dengan eskalasi konflik di Ukraina.
Pada 12 Mei, sebelum latihan nuklir dimulai, Rusia menguji rudal balistik antarbenua baru bernama Sarmat. Rudal berat ini dirancang untuk menggantikan rudal R-36M Voevoda yang diproduksi perusahaan Ukraina, Yuzhmash. Pemeliharaan rudal itu kini tidak lagi ditangani oleh perusahaan tersebut. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan jangkauan Sarmat melebihi 35.000 kilometer, lebih dari dua kali lipat dibandingkan Voevoda.
Jangkauan sejauh itu memungkinkan rudal diarahkan ke suatu target melalui banyak lintasan, bukan hanya lintasan terpendek. Hal ini membuat rudal sangat sulit dicegat. Putin juga menyebut fitur lain Sarmat, seperti lintasan penerbangan suborbital dan bobot peluncuran, yang disebutnya mengungguli rudal balistik antarbenua lainnya. Namun, gabungan semua parameter itu belum pernah dibuktikan dalam uji coba praktis. Dalam dua peluncuran yang berhasil, rudal tersebut tidak menempuh jarak lebih dari 6.000 kilometer.
Putin kerap membahas senjata strategis, terutama nuklir, dalam pidatonya. Saat mengomentari peluncuran Sarmat, ia juga menyebut proyek nuklir lainnya, seperti rudal jarak menengah Oreshnik yang diklaim akan mulai digunakan pada 2025. Ia juga menyebut sistem propulsi nuklir, yakni kendaraan bawah laut Poseidon dan rudal jelajah Burevestnik. Dilaporkan uji coba kedua kendaraan tersebut berhasil dilakukan pada 2025, namun tidak ada bukti dari sumber independen yang mengonfirmasi kebenaran klaim tersebut.
Artikel Terkait
Peluru Nyasar Tembus Plafon Rumah Warga Ciracas saat Korban Nonton TV
Trump Umumkan Kirim 5.000 Tentara ke Polandia di Tengah Ketidakjelasan Rencana Pengerahan Pasukan AS Sebelumnya
Sopir Taksi Green SM Ditetapkan sebagai Tersangka Kecelakaan Maut di Perlintasan Bekasi Timur
Kebakaran Auditorium Binus Kebon Jeruk Padam, 70 Personel Dikerahkan