PBB Peringatkan Laju Kepunahan Spesies Mengancam Ketahanan Pangan dan Kesehatan Manusia

- Rabu, 20 Mei 2026 | 13:10 WIB
PBB Peringatkan Laju Kepunahan Spesies Mengancam Ketahanan Pangan dan Kesehatan Manusia

Setiap tahun pada tanggal 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional atau International Day for Biological Diversity. Peringatan global yang digagas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap berbagai isu yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati.

Keanekaragaman hayati tidak hanya dimaknai sebagai ragam tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Lebih dari itu, konsep ini mencakup perbedaan genetik dalam setiap spesies misalnya antara varietas tanaman dan jenis ternak serta keanekaragaman ekosistem seperti danau, hutan, gurun, dan lahan pertanian. Seluruh elemen ini menjadi tempat berlangsungnya interaksi kompleks antara manusia, tumbuhan, dan hewan.

Sumber daya hayati menjadi pilar utama yang menopang peradaban manusia. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa ikan menyediakan 20 persen protein hewani bagi sekitar tiga miliar orang. Sementara itu, lebih dari 80 persen makanan manusia berasal dari tumbuhan. Di negara berkembang, sekitar 80 persen penduduk pedesaan masih bergantung pada obat-obatan tradisional berbasis tumbuhan untuk perawatan kesehatan dasar.

Namun, hilangnya keanekaragaman hayati tidak hanya mengancam keseimbangan alam, melainkan juga kesehatan manusia. Berbagai penelitian membuktikan bahwa penurunan keanekaragaman hayati dapat memperluas penyebaran zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Meskipun keanekaragaman hayati semakin diakui sebagai aset global yang sangat berharga bagi generasi mendatang, jumlah spesies terus berkurang secara signifikan akibat aktivitas manusia.

Menyadari urgensi tersebut, PBB menetapkan peringatan tahunan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional sebagai upaya edukasi dan peningkatan kesadaran publik. Pada tahun 2026, peringatan ini mengusung tema “Acting locally for global impact”. Tema tersebut menekankan bahwa perubahan besar dimulai dari skala kecil dan lokal. Keberhasilan rencana untuk membalikkan laju hilangnya keanekaragaman hayati bergantung pada kekuatan tindakan di tingkat komunitas, organisasi, dan pemerintah yang bekerja sama.

Kampanye ini juga bertujuan menanamkan rasa urgensi. Pada tahun 2026, hanya tersisa empat tahun untuk memenuhi target jangka pendek Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Terlepas dari segala kemajuan teknologi, manusia sepenuhnya bergantung pada ekosistem yang sehat dan dinamis untuk memperoleh air, makanan, obat-obatan, pakaian, bahan bakar, tempat tinggal, dan energi.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar