Rusia dan Belarusia memulai latihan nuklir bersama pada Senin (18/5/2026), sebuah langkah yang berlangsung di tengah kebuntuan dengan aliansi militer NATO dan Amerika Serikat (AS) terkait pengendalian senjata nuklir. Latihan ini digelar setelah Moskow mengerahkan rudal hipersonik Oreshnik, yang memiliki kemampuan nuklir terbaru, ke wilayah Belarusia sejak tahun lalu. Pengerahan senjata tersebut dinilai meningkatkan ketegangan dalam persaingan antara Kremlin dengan negara-negara Barat.
Kementerian Pertahanan Belarusia, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa latihan nuklir itu tidak secara khusus menargetkan negara ketiga. “Selama latihan, telah direncanakan untuk mempraktikkan isu-isu terkait pengiriman amunisi nuklir dan persiapan penggunaannya dalam kerja sama dengan pihak Rusia,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Latihan yang telah dijadwalkan sebelumnya itu, menurut Kementerian Pertahanan Belarusia, “tidak ditujukan terhadap negara ketiga dan tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan di kawasan tersebut.” Dalam pelaksanaannya, pasukan udara dan pasukan rudal dilibatkan dalam latihan nuklir gabungan ini.
Sementara itu, Belarusia merupakan negara Eropa Timur yang telah diperintah selama lebih dari tiga dekade oleh Alexander Lukashenko, sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin. Negeri itu sangat bergantung pada Moskow, baik secara ekonomi maupun militer.
Artikel Terkait
Prabowo Respons Santai Rupiah Tembus Rekor, Sebut Dampak Tak Terasa di Desa
Mendagri Dorong Pendekatan Lunak Cegah Ekstremisme, Targetkan Ruang Digital dan Akar Sosial
Dubes Kuba Paparkan Krisis Ekonomi Terburuk Sejak 1990-an ke Megawati, Bahas Kerja Sama Kesehatan dan Riset
Gubernur Malut Sebut Kemiskinan Petani dan Nelayan Akibat Kebijakan Abaikan Infrastruktur