Produsen kantong plastik, PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), memastikan pasokan bahan baku biji plastik tetap aman di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Direktur Utama Panca Budi, Tan Hendra, menyatakan bahwa suplai biji plastik yang selama ini berasal dari nafta produk turunan minyak bumi saat ini aman secara global. Pasokan bahan baku, menurutnya, semakin terdiversifikasi, mulai dari minyak, shale gas, hingga batu bara.
“Saat ini, pasar biji plastik dunia justru mengalami oversupply. Kehadiran pabrik naptha cracker baru menambah banjir pasokan di pasar domestik, sehingga kami optimistis ketersediaan bahan baku tetap terjaga,” ujar Tan Hendra dalam Public Expose yang dikutip Minggu (10/5/2026).
Ia mengungkapkan, harga biji plastik pada 2025 cenderung turun karena kelebihan pasokan. Namun, harga sempat melonjak hingga 70 hingga 80 persen saat awal konflik Timur Tengah, meskipun kini sudah mulai terkoreksi. Untuk mengantisipasi fluktuasi, Panca Budi menerapkan strategi diversifikasi pemasok dengan memiliki empat hingga lima pemasok cadangan. Dengan demikian, perusahaan tidak terlalu bergantung pada satu produsen. Persediaan bahan baku juga dijaga di level aman untuk menghindari aksi panic buying ketika harga tiba-tiba melonjak.
Di sisi lain, perusahaan mengandalkan efisiensi biaya yang tinggi. Volume pembelian bahan baku yang besar memungkinkan perusahaan memperoleh harga terbaik dan melakukan averaging down menggunakan stok yang ada saat harga pasar fluktuatif. Tan Hendra justru lebih khawatir terhadap potensi inflasi jika bahan baku mengalami kelangkaan. Secara fundamental, bagi Panca Budi, pasokan biji plastik sangat aman berkat diversifikasi teknologi dan kondisi oversupply global.
“Tantangan utama dalam situasi perang bukanlah kelangkaan bahan baku plastik, melainkan dinamika perubahan harga dan dampaknya terhadap inflasi yang dapat menggeser daya beli pasar,” katanya.
Sementara itu, dari sisi kurs, Panca Budi telah menyiapkan strategi menghadapi pelemahan rupiah. Saat ini, eksposur utang valas dalam denominasi dolar AS sangat rendah. Perusahaan juga memiliki mekanisme harga berbasis dolar AS, di mana meskipun transaksi di pasar menggunakan rupiah, harga jual harian langsung menyesuaikan dengan kurs yang berlaku. Selain itu, Panca Budi memiliki fasilitas lindung nilai (hedging) yang digunakan secara terukur untuk memitigasi fluktuasi kurs yang ekstrem. Dengan demikian, pergerakan kurs dinilai tidak akan mengganggu fundamental perusahaan dan profitabilitas secara drastis.
Sepanjang 2025, Panca Budi membukukan penjualan sebesar Rp5,19 triliun, turun 1,14 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp5,25 triliun. Penurunan kinerja top line tersebut membuat laba bersih tergerus 17 persen, dari Rp485 miliar menjadi Rp401 miliar.
Artikel Terkait
Xi Jinping ajak Trump jalan-jalan di Zhongnanhai, tunjukkan pohon berusia ratusan tahun
Banjir Bandang di Tanah Datar Rusak 67 Rumah dan Lima Jembatan, Ratusan Warga Mengungsi
Pemkab Probolinggo Evaluasi Penerapan Tiket Daring di Gunung Bromo untuk Tertibkan Administrasi dan Pelayanan Wisata
Polisi Gerebek Karaoke di Jakbar, Temukan Dua Anak di Bawah Umur Jadi Korban Prostitusi