PLTS di Pulau Tunda Rusak, Warga Kembali Bergantung pada PLTD yang Tak Stabil

- Minggu, 10 Mei 2026 | 06:50 WIB
PLTS di Pulau Tunda Rusak, Warga Kembali Bergantung pada PLTD yang Tak Stabil

Warga Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Banten, kembali mengeluhkan kondisi kelistrikan yang tidak stabil setelah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di wilayah tersebut dilaporkan rusak. Ketiadaan pasokan dari PLTS memaksa masyarakat hanya bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang pasokannya sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar solar.

Seorang warga bernama Mamat (43) mengungkapkan bahwa ketergantungan pada PLTD membuat jadwal penerangan menjadi tidak menentu. Menurutnya, listrik kerap padam tanpa pola yang jelas, bahkan dalam satu malam bisa beberapa kali mati dan menyala kembali. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan stok solar serta gangguan teknis pada mesin diesel.

“Kalau listrik mati, tower juga ikut mati. Warga jadi susah sinyal dan internet,” ujar Mamat kepada wartawan, Sabtu (9/5/2026).

Dalam situasi normal, listrik seharusnya menyala mulai pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB. Namun, belakangan ini jadwal tersebut kerap berubah secara mendadak. “Kadang baru jam 11 malam sudah mati. Pernah juga habis magrib nyala sebentar lalu mati lagi karena trouble,” tuturnya.

Meski menghadapi pasokan yang tidak stabil, warga tetap rutin membayar iuran listrik harian. Besaran iuran bervariasi, mulai dari Rp5.500 hingga Rp15.000 per malam, tergantung pada jumlah alat elektronik yang digunakan di masing-masing rumah. “Warga antusias bayar iuran listrik, yang penting iurannya dipakai untuk perawatan dan kebutuhan listrik,” kata Mamat.

Harapan besar masih tertuju pada perbaikan fasilitas tenaga surya yang sebelumnya pernah menjadi sumber listrik utama di Pulau Tunda. Menurut Mamat, panel surya sebenarnya masih dalam kondisi baik. Kerusakan justru terjadi pada baterai dan instalasi pendukung. “Tenaga suryanya sebenarnya masih bagus, cuma baterai dan instalasinya yang rusak. Kalau diperbaiki, listrik bisa nyala lagi,” jelasnya.

“Warga berharap pemerintah daerah maupun pusat segera memberikan perhatian serius terhadap persoalan listrik di Pulau Tunda,” tambahnya.

Di sisi lain, Mamat juga menyoroti minimnya tenaga teknis yang benar-benar memahami pengelolaan fasilitas listrik di pulau tersebut. Ketiadaan sumber daya manusia yang kompeten membuat kerusakan kecil kerap berkembang menjadi masalah yang lebih besar. “Kami juga punya masalah krusial dalam pengelolaannya, yaitu tenaga teknis perawatan yang bukan ahli. Pengurus hanya tahu menyalakan dan mematikan mesin. Jadi kalau ada kerusakan sedikit akhirnya merambat,” pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar