Amerika Serikat kembali menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat dan tokoh milisi di Irak, dengan tuduhan keterlibatan dalam praktik pengalihan minyak yang menguntungkan rezim Iran. Sanksi tersebut menyasar Wakil Menteri Perminyakan Irak, Ali Maarij Al-Bahadly, serta beberapa pemimpin milisi pro-Iran yang dinilai menjadi aktor kunci dalam skema eksploitasi sumber daya alam negara itu.
Kantor Pengawasan Aset-aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan AS, dalam pengumuman pada Jumat (8/5/2026), menyatakan bahwa Maarij dan para pemimpin milisi tersebut secara sistematis mengeksploitasi sektor perminyakan Irak. Tindakan itu disebut tidak hanya untuk mendanai aksi terorisme, tetapi juga menggoyahkan stabilitas politik dan keamanan di negara tersebut. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.
“Seperti geng jahat, rezim Iran menjarah sumber daya yang seharusnya menjadi milik rakyat Irak,” ujar Bessent dalam pernyataan resminya.
Ia menambahkan bahwa Departemen Keuangan tidak akan tinggal diam saat militer Iran mengeksploitasi minyak Irak untuk mendanai aksi terorisme yang mengancam Amerika Serikat dan sekutunya.
Menurut temuan otoritas AS, Maarij diduga memfasilitasi pengalihan produk minyak Irak secara ilegal untuk menguntungkan Teheran dan milisi proksinya di Irak. Salah satu modus yang terungkap adalah praktik pencampuran minyak Irak yang nilainya mencapai beberapa juta dolar AS per hari dengan minyak Iran sebelum dikirim ke pasar internasional. Langkah ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk menyamarkan asal-usul minyak dan menghindari sanksi yang sudah ada sebelumnya.
Artikel Terkait
Ibas Nilai BSPS dan Makan Bergizi Gratis Jadi Motor Ekonomi Desa
Sopir Taksi Online Bekasi Mengaku Mobil Mendadak Mati dan Pintu Terkunci saat Terjebak di Perlintasan Rel
Polisi Tolak Suap Rp100 Ribu Saat Tilang Pengemudi Pelat Palsu di Puncak Bogor
Polri Dalami Bukti Digital Laporan Jusuf Kalla soal Dugaan Hoaks