Ayah Korban Ungkap Kronologi Laporan Dugaan Pelecehan Seksual di Ponpes Pati, Akui Dapat Intimidasi

- Kamis, 07 Mei 2026 | 19:35 WIB
Ayah Korban Ungkap Kronologi Laporan Dugaan Pelecehan Seksual di Ponpes Pati, Akui Dapat Intimidasi

Seorang ayah dari santriwati yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual oleh pemilik pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah, akhirnya buka suara mengenai awal mula ia melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian. Pelaku yang diketahui berinisial AS itu telah dilaporkan atas dugaan tindakan asusila terhadap anaknya.

“Itu yang dikatakan anak saya, beberapa temannya saya datangi. Ternyata yang dikatakan anak saya itu cocok dengan apa yang saya temukan apa yang diperlakukan, apa yang dilakukan oleh Pak Kyainya kepada anak-anak tadi. Ya berkenaan dengan masalah itu, pelecehan seksual,” ujar sang ayah kepada wartawan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (7/4/2026).

Laporan polisi, menurut pengakuan sang ayah, telah dilayangkan sejak tahun 2024. Sejak saat itu pula, keluarga korban mulai menerima berbagai bentuk intimidasi. “Dalam proses setelah saya laporan, saya beberapa kali mendapat intimidasi dari keluarga pelaku. Termasuk ancaman,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengaku tidak gentar menghadapi tekanan tersebut. Baginya, memperjuangkan keadilan untuk anaknya berarti juga berjuang untuk teman-teman anaknya yang mungkin bernasib serupa. “Di situ saya tidak putus asa. Soalnya dari awal, tujuan saya bukan semata-mata untuk saya atau anak saya. Saya melihat banyak generasi atau anak-anak jadi korban. Itulah yang mendorong niat saya untuk membuka laporan di Polres. Karena kalau dibiarkan, mungkin saja banyak sekali yang jadi korban oleh oknum tadi,” tuturnya.

Sebelum melapor, sang ayah mengaku sudah memiliki prasangka terhadap AS. Ia sempat melihat pelaku kerap mengajak wanita yang bukan mahramnya saat bepergian. “Lah di situ, sebenarnya dari kelakuan si pelaku itu, saya sudah melihat gerak-geriknya yang negatif. Soalnya kalau jalan keluar, entah itu pergi kegiatan, yang diajak itu cewek-cewek,” imbuhnya.

Namun saat itu, kecurigaan belum sepenuhnya muncul. Ayah korban yang juga bekerja di sekitar lokasi pondok pesantren itu belum menaruh curiga. Kecurigaan baru meningkat drastis setelah anaknya menceritakan hal yang sama seperti apa yang ia lihat. “Tapi setelah anak saya bilang sama ibunya begini-begini, saya mulai sadar. Berarti kecurigaan saya selama ini benar. Setelah anak saya memberi penjelasan kepada ibunya, saya hubungi teman-temannya. Ternyata benar, anak-anak teman saya itu diperlakukan seperti apa yang dikatakan anak saya,” tegasnya.

Awalnya, sang ayah sempat khawatir kasus ini akan dianggap sebagai aib di mata masyarakat. Namun, tekad untuk memperjuangkan keadilan bagi anak dan sejawatnya menjadi pelecut agar ia tidak mundur. “Tapi demi berjuang untuk orang banyak, saya siap. Saya ajak anak saya, bismillah. ‘Ayo Nduk, bismillah memperjuangno kanca-kancamu nggih mboten Nduk?’ (Memperjuangkan teman-temanmu, benar tidak, Nak?) ‘Nggih.’ Bismillah, muga-muga barokah,” katanya.

Setelah melalui proses panjang, secerca harapan mulai tampak saat kasus pelecehan yang dilakukan AS menjadi viral. Menurut sang ayah, beban yang selama ini ia dan anaknya pikul terasa jauh lebih ringan. “Saya terima kasih kepada semua masyarakat. Setelah ini dari media viral, alhamdulillah plong rasanya. Soalnya beban yang ada di hati saya dan anak, termasuk perjuangan ini, banyak yang membantu,” ujarnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar