Di halaman Gedung Aneka Bhakti, Jakarta, pagi ini, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul berdiri tegas di hadapan para pegawainya. Agenda utamanya jelas: menancapkan tonggak baru budaya kerja di lingkungan Kementerian Sosial. Ada delapan pesan inti yang ia sampaikan, dan salah satunya cukup mengejutkan: moratorium total untuk perjalanan dinas ke luar negeri.
“Jadi hari ini kami berkumpul dengan seluruh pegawai Kementerian Sosial untuk membulatkan tekad, menyamakan langkah, menyamakan hati, dan pikiran dalam rangka menciptakan budaya kerja baru,” ujar Gus Ipul dalam arahan yang diberikan Senin (6/4/2026) itu.
Harapannya, transformasi ini bakal memberi dampak nyata bagi masyarakat. Itu sesuai pesan pertamanya: bekerja harus berorientasi pada dampak, bukan sekadar aktivitas rutin belaka.
“Tidak boleh ada kegiatan tanpa output,” tegasnya.
Nah, salah satu poin yang disoroti adalah soal Work From Home (WFH). Nantinya, WFH akan diterapkan satu hari dalam seminggu. Tapi Gus Ipul mengingatkan, bekerja dari rumah bukan berarti santai. Itu harus menghasilkan. Ia menyebutnya sebagai ‘produktivitas digital’.
Di sisi lain, efisiensi ditegaskan sebagai bentuk realokasi dampak. Intinya, birokrasi perlu diringkas dan program prioritas harus lebih tajam lagi. Meski begitu, prioritas kerja lapangan tak boleh dilupakan.
“Rakyat harus tetap merasakan kehadiran kita semua, khususnya jajaran Kementerian Sosial,” imbuhnya.
Soal kedisiplinan, Gus Ipul bersikap keras. Komitmennya untuk menegakkan integritas di Kemensos tak main-main. Pelanggaran akan ditindak tegas, tanpa kompromi. Sebagai gambaran, pada 2025 lalu hampir 500 pegawai dapat peringatan dan 49 orang bahkan diberhentikan karena diduga melanggar.
“Dan pada awal tahun ini, sungguh sangat menyesal, masih ada 3 ASN dan 1 masih dalam proses yang akan kita berhentikan,” jelasnya dengan nada serius.
Keberhasilan WFH, lanjutnya, sangat bergantung pada pemimpin satuan kerja. Mereka harus jadi contoh, menjaga ritme, dan memastikan target output tercapai. Para pegawai pun diminta mempersiapkan ekosistem kerja digital yang mumpuni.
“Kita minta kepada seluruh jajaran Kementerian Sosial mempersiapkan ekosistem kerja digital yang presisi, memudahkan, dan terintegrasi,” kata Gus Ipul.
Semua langkah ini, pada akhirnya, bermuara pada satu slogan: Kemensos Hemat, Layanan Hebat.
Selain delapan pesan inti tadi, ada sejumlah instruksi praktis. Seluruh unit kerja diminta memilih perjalanan dinas yang benar-benar prioritas. Rapat dan kegiatan dinas dioptimalkan secara daring. Penggunaan kendaraan dinas juga dihemat, dengan beralih ke kendaraan listrik.
Tak cuma itu, penggunaan energi seperti listrik, gas, dan air di kantor harus lebih bijak. Untuk tugas kedinasan, transportasi umum jadi pilihan utama.
Targetnya ambisius: setiap instansi diharapkan bisa memangkas perjalanan dinas dalam negeri 50 persen dan luar negeri 70 persen. Tapi Kemensos sendiri tampaknya lebih radikal. Mereka bertekad mengurangi perjalanan luar negeri hingga 100 persen alias nol sama sekali.
“Kementerian Sosial secara khusus mengambil keputusan, kita tidak akan melakukan perjalanan ke luar negeri. Artinya untuk perjalanan ke luar negeri kita nol persen,” tegas Gus Ipul.
Acara apel pagi itu turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi, seperti Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Sekjen Robben Rico, serta para direktur jenderal dan pejabat eselon madya lainnya. Mereka semua menyimak, menyambut era baru dengan serangkaian aturan yang kalau diterapkan betul bisa mengubah wajah kementerian ini.
Artikel Terkait
7.300 Peserta Padati Stadion Jatidiri Semarang Ikuti Seleksi Rekrutmen Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih
AS Tunda Penjualan Senjata ke Taiwan Demi Penuhi Kebutuhan Amunisi untuk Operasi Militer di Iran
DPR Ingatkan Risiko Kebijakan Ekspor Satu Pintu BUMN: Bisa Jadi Ajang Rente Jika Tanpa Integritas dan Transparansi
BPBD Bantul Pastikan Pasokan Air Bersih Aman di Awal Musim Kemarau