PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggandeng detikcom untuk menyelenggarakan pelatihan publik bertajuk "Newscraft & Relationlab" pada Rabu (6/5), sebuah inisiatif yang dirancang untuk memperdalam strategi komunikasi dan pencitraan perusahaan. Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian pesan, tetapi juga menekankan pentingnya "rasa" yang ingin ditanamkan kepada publik.
Manager Internal & Engagement Communication KAI, Nova Adrian Nugraha, dalam sambutannya menegaskan bahwa peran humas di era digital telah bertransformasi secara signifikan. Menurutnya, fungsi kehumasan tidak lagi sekadar menyebarkan informasi, melainkan juga membangun narasi yang kuat dan strategis untuk kepentingan perusahaan.
"Teman-teman semua, di era digital saat ini, kita tahu semua dalam artian di sini hubungan masyarakat (Humas) itu berperan yang sangat penting ya untuk perusahaan kita," ujarnya di Artotel Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
"Di mana kita tidak hanya bisa menyampaikan pesan, tetapi kita juga bisa membuat storytelling yang baik, bisa menyampaikan pesan-pesan yang memang strategis dari perusahaan ke publik," lanjutnya.
Nova juga menyampaikan apresiasinya terhadap pelatihan yang menghadirkan praktisi dari detikcom sebagai ruang belajar bersama. Ia menilai kesempatan ini sebagai fasilitas berharga bagi para peserta untuk berdiskusi dan bertukar ilmu.
"Dengan kesempatan hari ini, teman-teman semua kita dikasih fasilitas bisa belajar bersama dengan pemateri-pemateri dari timnya detikcom. Nanti ada Pak Karel Anderson, selain itu juga nanti ada Pak Ardhi Suryadhi, di mana beliau-beliau ini juga memang berpengalaman di bidangnya, sehingga kita bisa saling diskusi, bertukar ilmu di sini, dan bisa menerapkan dalam kegiatan kita di area kerja masing-masing," jelasnya.
Pada sesi materi pertama, Head of Brand Communication detikcom, Karel Anderson, membahas secara mendalam mengenai corporate branding dan peran public relations dalam membangun citra perusahaan. Para peserta diajak untuk memahami proses penyusunan informasi, pengelolaan hubungan kehumasan, hingga teknik membangun narasi yang kuat dan kredibel.
Dalam kesempatan itu, Karel menegaskan bahwa branding bukanlah sekadar mengikuti tren sesaat, melainkan upaya membangun nilai jangka panjang di benak publik. Ia menyoroti bahwa banyak praktisi komunikasi masih terjebak pada target viral atau sekadar mengikuti tren, padahal pendekatan tersebut dinilai tidak cukup untuk membangun citra yang berkelanjutan.
"Branding itu bukan diikutkan dengan hype (tren), tapi membangun value jangka panjang," jelasnya.
Menurut Karel, komunikasi yang efektif tidak hanya berfokus pada pesan yang ingin disampaikan, tetapi juga pada perasaan yang ingin ditanamkan kepada audiens. Ia menekankan bahwa meskipun pesan dapat dikendalikan, kesan yang terbentuk di benak publik tidak bisa dipaksakan.
"Kita bisa kontrol pesan, tapi gak bisa memaksakan kesan. Maka narasi boleh sama, rasanya yang harus beda," ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen perusahaan dalam membangun branding, tidak hanya terbatas pada tim komunikasi semata. Hal ini dinilai semakin krusial, terutama bagi institusi pelayanan publik yang perlu membangun komunikasi efektif kepada masyarakat.
"Pastikan branding yang dilakukan dipahami semua orang dalam perusahaan, bukan hanya dari tim brand saja, tapi dari semua elemen," tegasnya.
"Karena sebagai badan institusi pelayanan publik penting banget. Namanya branding dan juga mengkomunikasikan ke rakyat biar semua, baik itu pelayanannya, semua servisnya yang diberikan ke masyarakat, dan juga ke pelanggannya itu bisa mendapatkan suatu servis yang excellent," katanya.
"Jadi bukan hanya sekedar melayani begitu saja, tapi ada sesuatu yang berbeda dari yang lain," tambahnya.
Lebih lanjut, Karel memaparkan tiga pola pikir utama dalam mengemas komunikasi menjadi reputasi. Ketiganya meliputi penyampaian pesan dengan cara yang berbeda meskipun berbasis data yang sama, mengubah fokus komunikasi pada pengalaman audiens, serta pengelolaan persepsi publik terhadap merek. Melalui pendekatan ini, komunikasi diharapkan mampu membangun kepercayaan, kedekatan, dan keterlibatan dengan publik.
Sementara itu, selain pemaparan materi oleh Karel Anderson, acara ini juga akan menghadirkan Pimpinan Redaksi detikcom, Ardhi Suryadhi, sebagai pemateri pada sesi kedua. Kegiatan ini dilengkapi dengan studi kasus untuk mengasah pemahaman peserta, serta permainan interaktif berhadiah yang akan diumumkan di akhir acara.
Artikel Terkait
Noel Mengaku Tak Tahu Kewajiban Lapor Gratifikasi ke KPK saat Sidang Dugaan Pemerasan
Wamen Sosial Apresiasi Jember Lakukan Pengecekan Langsung Data Penerima Bansos Tekan Kemiskinan Ekstrem
Instagram Bersihkan Jutaan Akun Bot dan Spam, Pengikut Selebritas Dunia Susut Drastis
Bakom Bantah Ada Kerja Sama dengan Indonesia New Media Forum Usai Pertemuan Audiensi