Jakarta Harga minyak mentah Brent kembali memanas. Pekan lalu, ia bertengger di kisaran USD105 per barel. Tapi pagi ini, nilainya sudah mendekati USD107. Penyebabnya? Diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran lagi-lagi macet.
Washington memutuskan membatalkan pengiriman delegasi ke Islamabad. Keputusan itu sontak membuat pasar khawatir. Apalagi, ini berkaitan langsung dengan potensi gangguan di Selat Hormuz salah satu jalur distribusi energi paling krusial di planet ini. Risk premium pun membengkak lagi.
Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas, lonjakan ini bikin pasar waswas. Kekhawatiran utamanya? Tekanan inflasi global, terutama buat negara pengimpor energi kayak Indonesia.
“Brent yang bertahan tinggi berpotensi jadi overhang bagi sentimen domestik,” jelasnya. Risiko kenaikan biaya impor dan tekanan terhadap ekspektasi inflasi mulai membayangi.
Namun begitu, anehnya, sentimen risiko global justru masih terbilang konstruktif. Indeks S&P 500 dan Nasdaq malah mencetak rekor penutupan tertinggi. Investor global sepertinya belum mengambil sikap risk-off secara besar-besaran. Mereka masih bertaruh pada ketahanan ekonomi dan momentum pasar saham AS.
Di sisi lain, pasar domestik bergerak sebaliknya. Indonesia, kata Rully, sedang menghadapi fase de-risking yang cukup berat.
“Sebaliknya, pasar domestik bergerak berlawanan. Indonesia tengah menghadapi fase de-risking yang cukup berat, tercermin dari koreksi IHSG sebesar 3,4% pada Jumat ke level 7.129,” ungkapnya dalam riset.
Tekanan jual asing tercatat sekitar Rp3 triliun. Penjualan paling agresif terkonsentrasi di saham perbankan besar. BBCA, misalnya, mencatat net sell sekitar Rp2,1 triliun. Cukup mengagetkan.
Perbedaan arah antara pasar global dan domestik ini menunjukkan sesuatu: investor mulai lebih sensitif terhadap risiko spesifik Indonesia. Dampak kenaikan harga energi terhadap rupiah, inflasi, dan prospek kebijakan moneter jadi sorotan. Dalam kondisi kayak gini, pasar cenderung lebih cepat merespons faktor eksternal negatif ketimbang katalis positif dari dalam negeri.
Volatilitas diperkirakan bakal tetap tinggi dalam jangka pendek. IHSG dan rupiah kemungkinan besar akan berkonsolidasi. Selama harga Brent masih bertahan tinggi atau terus naik, tekanan terhadap aset berisiko domestik belum akan mereda.
Fokus investor sekarang tertuju pada dua hal utama: pertama, perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Kedua, kemampuan pasar Indonesia menyerap tekanan eksternal. Kalau risk premium minyak terus menebal, sentimen defensif bakal mendominasi. Dan ekspektasi inflasi? Itu bisa jadi isu utama yang membayangi arah pasar selanjutnya.
Artikel Terkait
Gubernur Banten Pastikan Stok dan Harga Pupuk Subsidi Aman, Distribusi Digital Cegah Kelangkaan
MNC Group Nilai Ada Kejanggalan dalam Putusan PN Jakpus, Tempuh Banding hingga PK
Kemendagri Beri Penghargaan 29 Kepala Daerah, DKI Jakarta Raih Skor Tertinggi
UNIFIL Pimpin Penghormatan Terakhir untuk Praka Rico, Prajurit TNI Keempat yang Gugur di Lebanon Selatan