Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis. Ia yakin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bisa menembus level psikologis 10.000 tahun ini. Padahal, beberapa hari terakhir pasar modal dalam negeri sedang tertekan cukup hebat.
Pernyataan itu disampaikan di tengah kekhawatiran investor. Bursa domestik sempat jatuh hingga 3,38 persen terburuk di antara bursa utama Asia. Tapi pemerintah melihat ini hanya sementara. Katanya, ini dampak sentimen global yang negatif, bukan karena masalah struktural di dalam negeri.
Jumat pekan lalu, 24 April 2026, IHSG ditutup di 7.129,49. Anjlok 249,11 poin. Cukup dalam.
“Ini masih fase volatilitas,” ujar Purbaya di sela-sela pengarahan media, Sabtu (25/4). “Kalau fundamental ekonomi kita tetap kokoh, IHSG akan rebound cepat.”
Prioritas di Makro, Bukan Intervensi Pasar
Menurut Purbaya, tugasnya sekarang bukan bermain-main dengan angka di bursa. Lebih dari itu, ia ingin menjaga kesehatan ekosistem ekonomi makro secara keseluruhan. Ia percaya, kalau ekonomi nasional stabil, pasar modal pada akhirnya akan mengikuti.
“Fokus saya jaga stabilitas ekonomi. Bukan sekadar lihat IHSG,” katanya. “Pasar saham akan menyesuaikan sendiri dengan fundamental kita.”
Pernyataan ini keluar di saat banyak investor asing mulai gugup. Tapi pemerintah sepertinya ingin memberi sinyal: jangan panik dulu.
Kinerja Regional: Jakarta Paling Terpukul
Suasana risk-off memang sedang melanda Asia. Indeks-indeks utama seperti Sensex India, PSEI Filipina, sampai Shanghai Composite China semuanya melemah. Tapi yang paling parah? Jakarta. Koreksi di sini paling dalam dibandingkan negara tetangga.
Volume transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat 47,12 miliar saham. Nilai perputarannya tembus Rp24,33 triliun. Sempat menyentuh 7.383,4 di awal sesi, tapi aksi jual besar-besaran membuat IHSG jatuh ke titik terendah hari itu di 7.115,97.
Di sisi lain, beberapa bursa seperti Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong justru bertahan di zona hijau. Lumayan jadi pengecualian di tengah tekanan jual global.
Para analis menilai optimisme pemerintah ini semacam pesan stabilitas. Maksudnya, supaya investor asing tetap percaya pada prospek jangka panjang Indonesia. Tapi ya, pasar punya logikanya sendiri. Kita lihat saja bagaimana pekan depan.
Artikel Terkait
22 Biksu Sri Lanka Tertangkap Bawa 110 Kg Ganja dari Thailand
Timnas Indonesia akan Hadapi Oman di FIFA Matchday Juni 2026, Suporter Ramai Beri Dukungan dan Kritik
Anggota TNI Dikeroyok di Stasiun Depok Baru Usai Tegur Ibu yang Kasar ke Anak, Dua Pelaku Ditangkap
Jay Idzes Kini Jadi Pilar Utama di Lini Belakang Sassuolo Usai Meniti Karier dari Belanda