Warga Palestina Mulai Gunakan Hak Pilih dalam Pemilu Daerah Pertama Sejak Perang Gaza 2023

- Sabtu, 25 April 2026 | 13:00 WIB
Warga Palestina Mulai Gunakan Hak Pilih dalam Pemilu Daerah Pertama Sejak Perang Gaza 2023

Sabtu pagi, 25 April, suasana di Tepi Barat dan sebagian Jalur Gaza terasa berbeda. Warga Palestina berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara. Mereka datang untuk menggunakan hak pilih dalam pemilu daerah. Ini bukan pemilu sembarangan ini yang pertama sejak perang Gaza pecah pada 2023 lalu.

Di Al-Bireh, Tepi Barat, petugas pemilu sudah bersiap sejak subuh. Meja-meja panjang, kotak suara, dan daftar pemilih tertata rapi. Sementara itu, di Deir el-Balah, Jalur Gaza bagian tengah, pemandangan serupa juga terlihat. Warga mulai berdatangan, antre dengan sabar meski udara pagi masih dingin. Rekaman video dari dua lokasi itu memperlihatkan betapa seriusnya proses ini dijalankan.

Menurut Komisi Pemilihan Pusat yang bermarkas di Ramallah, hampir 1,5 juta orang tercatat sebagai pemilih di Tepi Barat. Di Deir el-Balah sendiri, ada sekitar 70.000 pemilih yang terdaftar. Tempat pemungutan suara dibuka dari jam tujuh pagi waktu setempat. Tidak ada laporan gangguan berarti, setidaknya di jam-jam awal.

Namun begitu, pemilu tahun ini tidak berlangsung tanpa ketegangan. Persaingan politik cukup ketat. Di sisi lain, kekecewaan publik juga meluas. Banyak warga yang merasa belum ada perubahan berarti pasca-perang. Tapi setidaknya, mereka punya kesempatan untuk bersuara lagi.

Lalu, kenapa pemilu di Gaza cuma digelar di Deir el-Balah? Bukan tanpa alasan. Jamal al-Fadi, seorang ilmuwan politik dari Universitas Al-Azhar di Kairo, punya penjelasan menarik. Menurut dia, ini semacam eksperimen. “Untuk menguji apakah pemilu bisa berhasil atau gagal di tengah situasi pasca-perang,” katanya. Karena, lanjut Fadi, tidak ada jajak pendapat yang benar-benar bisa diandalkan sejak konflik usai.

Deir el-Balah dipilih bukan sembarangan. Dari sekian banyak wilayah di Gaza, daerah ini termasuk yang paling stabil. Penduduknya sebagian besar tidak mengungsi. Mereka tetap tinggal di rumah masing-masing, meski perang antara Hamas dan Israel sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Itu sebabnya, tempat ini dianggap cukup representatif untuk jadi lokasi pemungutan suara.

Bagi warga Gaza, pemilu kali ini terasa istimewa. Terakhir kali mereka memilih secara legislatif adalah tahun 2006 dan saat itu Hamas menang. Sejak 2007, Gaza berada di bawah kendali Hamas. Jadi, hampir dua dekade mereka tidak merasakan pesta demokrasi seperti ini. Meski skalanya terbatas, setidaknya ada secercah harapan bahwa suara mereka masih berarti.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar