Rusia Ancam Targetkan Negara Eropa yang Terima Pengebom Nuklir Prancis

- Jumat, 24 April 2026 | 13:05 WIB
Rusia Ancam Targetkan Negara Eropa yang Terima Pengebom Nuklir Prancis

Pemerintah Rusia baru saja mengeluarkan peringatan yang cukup keras. Isinya begini: negara-negara Eropa mana pun yang bersedia menerima penempatan pesawat pengebom strategis milik Prancis, otomatis akan masuk daftar sasaran serangan Rusia. Ya, kalau sampai terjadi konflik, mereka tidak akan ragu.

Sebelumnya, Emmanuel Macron, Presiden Prancis, sudah mengumumkan rencana untuk memperluas persenjataan nuklir negaranya. Katanya, Prancis mungkin akan mengizinkan negara-negara mitra di Eropa untuk menampung pesawat-pesawat yang mampu membawa senjata nuklir itu. Gagasan ini, tentu saja, langsung memicu reaksi.

Menurut laporan kantor berita Reuters dan Al Arabiya, Jumat (24/4/2026), Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Grushko, angkat bicara. Dalam wawancara yang terbit sehari sebelumnya, Kamis (23/4), ia menyebut langkah Macron sebagai bagian dari "peningkatan yang tidak terkendali" dari potensi nuklir NATO. Baginya, ini jelas ancaman strategis buat Rusia.

Grushko juga menekankan kekhawatiran Moskow soal kemungkinan penempatan nuklir Prancis di negara-negara Eropa lainnya. Macron sendiri, menurut kabar, sudah membahas pengaturan ini dengan Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark. Bayangkan saja, delapan negara sekaligus.

"Jelas, militer kita akan dipaksa untuk memperhatikan masalah ini dengan saksama dalam konteks memperbarui daftar target prioritas jika terjadi konflik besar," ujar Grushko kepada media pemerintah Russia Today. Pernyataan ini, ya, cukup terang-terangan.

Ia lalu menambahkan, "Akibatnya, alih-alih penguatan pertahanan sekutu yang dinyatakan Prancis -- yang kebetulan, tidak mereka berikan jaminan yang pasti -- keamanan negara-negara ini justru melemah." Jadi, menurut Moskow, yang terjadi malah sebaliknya.

Inisiatif Macron ini sebenarnya bagian dari upaya negara-negara NATO di Eropa untuk lebih mandiri dalam urusan pertahanan. Apalagi, belakangan ini Presiden AS, Donald Trump, sering melontarkan kritik pedas terhadap aliansi tersebut. Jadi, ya, ada semacam dorongan untuk tidak terus-terusan bergantung pada Amerika.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar