Blokade Laut AS di Iran Mulai Tekan Ekonomi, Warga Hidup dari Hari ke Hari

- Jumat, 24 April 2026 | 11:20 WIB
Blokade Laut AS di Iran Mulai Tekan Ekonomi, Warga Hidup dari Hari ke Hari

Blokade Laut AS di Iran: Antara Tekanan Perang dan Jeritan Rakyat

Sejak Senin, 13 April, Amerika Serikat resmi memberlakukan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini adalah respons atas blokade Selat Hormuz jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman yang sebelumnya dilakukan Iran. Targetnya jelas: menghentikan ekspor, terutama minyak, dan menekan pemerintah di Teheran.

Tapi, seberapa lama blokade ini bisa bertahan? Shahin Modarres, pakar keamanan internasional dari Universitas Roma Tor Vergata, punya pandangannya sendiri.

“AS bisa mempertahankan blokade militer semacam itu selama berbulan-bulan, bahkan dalam beberapa skenario hingga lebih dari setahun,” katanya dalam wawancara dengan Deutsche Welle.

Situasi memang rumit. Setelah hampir enam minggu perang, gencatan senjata yang rapuh akhirnya tercapai antara Iran dan AS. Namun, blokade laut ini menurut kritik keras dari Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf jelas melanggar perjanjian damai itu. Lewat platform X, ia menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka selama “pelanggaran berat” masih terjadi.

Presiden AS Donald Trump, di sisi lain, bersikukuh. Blokade akan terus berlanjut sampai ada kesepakatan baru dengan Teheran.

Menariknya, Modarres tidak melihat langkah ini sebagai upaya meraih kemenangan militer cepat. Baginya, ini lebih seperti strategi jangka panjang: melemahkan rezim Iran secara bertahap dan terkendali. Ia bahkan menarik paralel dengan tahun-tahun terakhir Perang Iran-Irak (1980-1988). Saat itu, Iran terus-menerus berada di bawah tekanan militer dan ekonomi, hingga akhirnya menyerah pada gencatan senjata.

Tapi, Modarres juga mengingatkan bahwa tekanan ini tidak hanya mengenai rezim.

“Seiring waktu, tekanan ekonomi global, kelelahan operasional, dan juga tekanan politik dalam negeri di Iran akan meningkat. Instrumen ini hanya efektif dalam jangka pendek hingga menengah, bukan solusi berkelanjutan. Satu-satunya pihak yang dirugikan adalah rakyat entah perang berlanjut tanpa perubahan struktural atau berakhir,” tegasnya.

Harga-harga Naik, Hidup dari Hari ke Hari

Blokade ini memang dirancang untuk menghambat ekspor minyak Iran. Tapi, menurut portal khusus Lloyd’s List, beberapa kapal Iran berhasil lolos. Dalam laporan yang terbit pada Senin, 20 April, disebutkan bahwa 26 kapal termasuk setidaknya sebelas yang mengangkut minyak dan gas telah melewati garis blokade sejak 13 April. Pentagon membantah informasi itu sehari kemudian.

Namun begitu, dampak ekonominya tidak hanya soal ekspor. Impor barang kebutuhan pokok juga ikut terhambat. Ashkan Nizamabadi, jurnalis ekonomi yang berbasis di Berlin, menjelaskan situasinya.

“Selain ekspor, impor bahan pangan pokok dan bahan baku produksi akan lebih terdampak,” katanya dalam wawancara dengan DW.

Menurut Nizamabadi, Iran mengimpor sekitar satu juta ton beras setiap tahun, terutama dari India dan Pakistan. Jika blokade laut terus berlanjut, Teheran kemungkinan besar harus beralih ke rute darat atau meningkatkan kerja sama dengan Turki. “Perubahan logistik ini jauh lebih mahal daripada jalur laut. Akibatnya, harga naik dan pada akhirnya, konsumen yang menanggungnya,” tambahnya. Para importir pun mulai menahan pengiriman pasokan karena khawatir terjadi kelangkaan.

Seorang jurnalis dari Teheran yang meminta namanya dirahasiakan menggambarkan kehidupan sehari-hari yang mencekam.

“Sekarang semua orang berusaha hidup dari hari ke hari. Di supermarket atau toko roti, orang-orang hanya membeli apa yang mereka butuhkan untuk satu kali makan. Tidak ada yang bisa memperkirakan apa yang akan terjadi besok.”

Ketakutan Kehilangan Pekerjaan dan Hidup dalam Kemiskinan

Di tengah semua ini, ketakutan akan kehilangan pekerjaan semakin nyata. Fasilitas minyak dan industri hancur, puluhan ribu pekerja harian di-PHK. Produksi di sektor baja dan petrokimia terhenti, memicu reaksi berantai yang memaksa banyak perusahaan terkait ikut tutup. Banyak layanan yang macet selama perang dan belum pulih meski gencatan senjata sudah berlaku.

Samaneh, seorang penjual di toko kosmetik Teheran, bercerita dengan nada putus asa.

“Sejak mogok kerja massal akhir tahun lalu, segalanya terhenti. Kemudian protes ‘meletus’, lalu perang. Sekarang memang ada gencatan senjata, tapi situasi tidak membaik.”

Banyak keluarga kini bertahan hidup dari tabungan. Tidak ada yang tahu berapa lama lagi mereka bisa bertahan. Menurut warga Iran, banyak pemuda yang kembali tinggal bersama orang tua. Sebagian lainnya memilih meninggalkan kota-kota besar seperti Teheran untuk menghindari biaya hidup yang semakin tinggi.

Ekonomi Iran sebenarnya sudah terpuruk selama bertahun-tahun akibat tata kelola buruk, korupsi, dan sanksi internasional. Pada 2025, tingkat inflasi rata-rata diperkirakan mencapai 51%. Untuk 2026, angka itu diproyeksikan naik menjadi 69%.

Amir Alizadeh, Kepala Urusan Internasional di Kamar Dagang Industri Ulm, memberikan gambaran lebih suram.

“Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi negatif sekitar enam persen untuk Iran tahun 2026. Program Pembangunan PBB (UNDP) bahkan memperkirakan penurunan sebesar delapan hingga sepuluh persen jika mempertimbangkan indikator pembangunan manusia. Tingkat kemiskinan diperkirakan naik sekitar 5% dari 36% menjadi sekitar 41%,” jelasnya.

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Ayu Purwaningsih

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar