Polda Metro Periksa Pelapor Akademisi Feri Amsari Terkait Kritik Swasembada Pangan

- Jumat, 24 April 2026 | 09:00 WIB
Polda Metro Periksa Pelapor Akademisi Feri Amsari Terkait Kritik Swasembada Pangan

Polda Metro Jaya mulai bergerak. Pelapor akademisi Feri Amsari, yang notabene pengamat politik, dipanggil untuk diperiksa. Total ada sekitar 20 pertanyaan yang dilontarkan penyidik kepada mereka. Isinya macam-macam, dari soal siapa yang dilaporkan sampai di mana persisnya perkara ini terjadi.

Feri sendiri dilaporkan gara-gara pernyataannya yang mengkritik program swasembada pangan di era Presiden Prabowo Subianto. Kata pelapor, pernyataan itu masuk kategori hoaks. Bukan kritik biasa, katanya.

Ada dua laporan yang masuk ke polisi. Salah satunya datang dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Tani Nusantara. Nah, Kamis kemarin, 23 April 2026, pihak LBH ini dipanggil untuk dimintai keterangan.

"Kami dapat surat panggilan untuk di-BAP sebagai pelapor," kata Ketua Umum LBH Tani Nusantara, Minta Ito Simamora, Jumat (24/4/2026).

Dalam pemeriksaan itu, Minta mengaku dicecar sekitar 20 pertanyaan. "Pertanyaannya seputar siapa yang dilapor, di mana kejadian perkaranya," ujarnya. Ia juga bilang, tidak ada bukti baru yang mereka serahkan ke penyidik. Harapannya, proses ini terus berlanjut. Hukum harus ditegakkan, katanya.

"Kami berharap ini lanjut ke tahap berikutnya. Biar diverifikasi, data yang kami punya dengan data yang dimiliki Feri Amsari," tutur Minta.

Di sisi lain, Jeffri Mangapul Simanjuntak dari Bidang Advokasi, Litigasi dan Hubungan Antar Lembaga LBH Tani Nusantara, punya pandangan lain. Menurut dia, pernyataan Feri bukan sekadar kritik. Lebih dari itu, kata Jeffri, pernyataan itu melukai hati petani.

"Ini desakan dari para petani. Pemerintah sudah kerja keras, subsidi pupuk sudah banyak, beras swasembada pangan sudah nyata di lapangan. Petani merasakannya," ujar Jeffri.

Dia juga menepis anggapan bahwa laporan ini bentuk kriminalisasi terhadap kritik. Menurut Jeffri, apa yang mereka lakukan sebenarnya melindungi Feri. Dari apa? Dari aksi main hakim sendiri. "Kami ingin menghindari upaya-upaya di luar hukum," katanya.

Jeffri punya pesan buat Feri: berhenti menebar hoaks. Jangan bikin keresahan di masyarakat. "Kalau memang ada data, buka saja gamblang di media. Jangan bikin kerusuhan, kericuhan. Nanti siapa yang tanggung jawab kalau ada demo di luar? Lihat saja di rumah Pak Saiful Mujani, ada demo. Hati-hati, jangan menyinggung perasaan petani," ucapnya.

Pemerintah, menurut Jeffri, sudah bekerja keras. LBH Tani Nusantara melihat sendiri di lapangan. Ia menegaskan, pihaknya tidak anti-kritik. Tapi, kritik jangan sampai menyinggung perasaan orang lain.

"Kami menghargai kebebasan berpendapat. Kami juga menghargai kritik, termasuk ke pemerintah. Tapi jangan menyinggung petani dan pedagang. Kondisi geopolitik sekarang mengkhawatirkan. Di negara lain, pangan dan energi sudah kritis. Jangan tambah masalah di sini," pungkas Jeffri.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar