Bisnis.com, JAKARTA Moda transportasi kereta api mulai dilirik serius untuk angkutan logistik. Ini terjadi di tengah makin padatnya jalan raya oleh kendaraan berat. PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyadari betul situasi ini.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, bilang volume logistik terus meningkat. Makanya, perlu moda yang bisa ngangkut barang dalam skala besar secara konsisten. Bukan cuma sekali-sekali, tapi rutin.
“Kereta api menjadi salah satu opsi yang dapat dioptimalkan untuk mendukung distribusi nasional yang lebih efisien dan terstruktur,” ujar Anne dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).
Nah, bicara soal kinerja, data kuartal I/2026 cukup menggembirakan. KAI mencatat angkutan peti kemas mencapai 1.371.036 ton. Angka ini tumbuh 14,57% year on year (YoY) dibanding periode yang sama tahun lalu yang cuma 1.196.600 ton. Lumayan kan?
Dari sisi operasional, ketepatan waktu juga membaik. Keberangkatan angkutan barang tembus 95,97%, sementara kedatangan di 91,77%. Bandingkan dengan tahun sebelumnya: 95,89% untuk keberangkatan dan 87,04% untuk kedatangan. Ada peningkatan, walau tipis.
Dengan tren begini, penguatan moda rel jadi kunci. Apalagi kebutuhan logistik nasional terus naik. Sistem distribusi yang lebih efisien, terukur, dan berkelanjutan jelas perlu dibangun.
Tapi, jangan kira semuanya mulus. Masih ada pekerjaan rumah besar.
Saat ini, distribusi logistik nasional masih didominasi angkutan jalan. Berdasarkan kajian National Logistics Ecosystem (NLE) oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI (2024), biaya logistik Indonesia masih di kisaran 14,29% terhadap PDB. Angka ini menunjukkan kita perlu diversifikasi moda transportasi.
Belum lagi soal target. Dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) 2030 dari Kementerian Perhubungan, pangsa angkutan barang berbasis kereta ditargetkan 15% pada 2030. Realitanya? Masih di bawah 5%. Jauh banget.
Target itu menggambarkan kebutuhan peningkatan kapasitas. Peran moda rel dalam sistem logistik nasional harus diperbesar. Bukan cuma omongan, tapi aksi nyata.
Di sisi lain, penguatan angkutan rel juga bisa bantu jaga infrastruktur jalan. Kalau sebagian distribusi barang pindah ke kereta, beban kendaraan berat di jalan raya berkurang. Ujung-ujungnya, umur jalan lebih panjang dan biaya perawatan bisa ditekan.
Potensi terbesar ada di Pulau Jawa. Soalnya, ini pusat aktivitas ekonomi nasional. Integrasi antara kawasan industri, pelabuhan, dan jaringan rel jadi faktor penting. Ini yang bakal dorong volume angkutan peti kemas naik.
Anne menambahkan, penguatan logistik berbasis rel butuh kolaborasi lintas sektor. Nggak bisa sendiri-sendiri.
“Ke depan, pengembangan logistik berbasis rel perlu didukung oleh integrasi jaringan, peningkatan kapasitas, serta sinergi dengan berbagai pihak. Dengan langkah tersebut, distribusi barang dapat berjalan lebih efisien dan mampu menjawab kebutuhan ekonomi yang terus berkembang,” tutup Anne.
Soal kapasitas, KAI saat ini mengoperasikan gerbong dengan kapasitas rata-rata 50 ton per gerbong. Secara bertahap, ini ditingkatkan jadi 70 ton. Dengan satu rangkaian hingga 60 gerbong, kapasitas angkut bisa mencapai 4.200 ton dalam satu perjalanan. Bayangkan, sekali jalan bisa bawa ribuan ton barang.
Efisiensi ini signifikan untuk distribusi barang dalam jumlah besar. Sekaligus menunjukkan potensi kereta api mengurangi ketergantungan pada angkutan jalan untuk jarak jauh. Apalagi dengan strategi peningkatan kapasitas yang terus dilakukan.
Artikel Terkait
Investasi Hilirisasi Tembus Rp147,5 Triliun di Awal 2026, Jadi Bukti Kepercayaan Investor pada Kebijakan Ekonomi Prabowo
Ammar Zoni Divonis 7 Tahun Penjara, Dapat Upah Rp10 Juta Edarkan Sabu di Rutan Salemba
PLN Ungkap 13 Gardu Induk Bermasalah Sebabkan Mati Listrik di Jakarta, Pasokan Pulih Total
Wamendagri Bima Arya Tanggapi Usulan KPK: Kaderisasi Capres-Cawapres Sudah Disepakati, Tapi Tak Mudah