Analis hubungan internasional dari UI, Asra Virgianita, punya pandangan menarik soal langkah Iran yang ogah datang ke perundingan putaran kedua dengan Amerika Serikat. Menurutnya, ini jelas sebuah strategi politik. Lebih dari sekadar penolakan biasa, sikap itu menggambarkan betapa rapuhnya kepercayaan Tehran terhadap proses yang sedang berjalan.
Asra membeberkan analisisnya kepada awak media pada Selasa lalu.
"Sikap Iran ini bisa dibaca dari dua sisi," ujarnya.
Pertama, ini adalah bentuk daya tawar. Dengan ancaman tidak hadir, Iran berharap bisa menekan AS agar melunak. Tuntutan mereka, terutama terkait blokade di Selat Hormuz, ingin dipenuhi dulu. Jadi, ancaman bolos itu bukan cuma soal menolak. Ini adalah pesan politik keras untuk menegaskan posisi tawar mereka.
Di sisi lain, langkah itu juga mencerminkan ketidakpercayaan yang mendalam. Iran, kata Asra, meragukan itikad baik negosiasi. Kebijakan AS seperti blokade pelabuhan di sekitar Selat Hormuz hanya memperkuat persepsi buruk itu.
Dampaknya terhadap perundingan putaran kedua jelas signifikan.
"Tanpa kehadiran Iran sebagai pihak bersengketa, keputusan apapun yang dihasilkan akan lemah legitimasinya. Daya ikatnya pun hampir tidak ada," jelas Asra. Ini adalah strategi de-legitimasi yang cukup cerdik, meski berisiko tinggi.
Kondisi ini berbahaya. Masing-masing pihak bakal semakin kukuh pada pendiriannya sendiri. Akibatnya, ruang untuk berkompromi menyempit.
Gencatan senjata? Peluang untuk merenegosiasinya sangat kecil. Justru, kemungkinan eskalasi dan konflik terbuka yang semakin besar. Situasinya bisa kembali memanas dengan mudah.
Jadi, langkah Iran ini bukan sekadar ulah. Ini adalah manuver politik yang penuh perhitungan, meski konsekuensinya bisa tak terduga.
Artikel Terkait
Pelajar Bantul Tewas Dikeroyok, Dua Pelaku Ditangkap, Lima Lainnya Diburu
Gempa 7,4 SR dan Peringatan Tsunami di Jepang, Kemlu Pastikan Tak Ada WNI Korban
Remaja 16 Tahun Nyaris Buta Usai Disiram Air Keras dalam Tawuran di Johar Baru
Israel Minta Maaf atas Insiden Prajurit Hancurkan Patung Yesus di Lebanon Selatan