Video itu sudah menyebar kemana-mana di media sosial sebelum Bu Atun mengetahuinya. Guru PKN SMAN 1 Purwakarta itu, Syamsiah, baru tersadar ada rekaman aib dimana seorang siswa mengacungkan jari tengah padanya usai jam pelajaran. Sungguh perlakuan yang tak pantas. Meski begitu, ia sudah memaafkan.
“Saya manusiawi kalau saya sedih,” ujarnya, yang akrab disapa Bu Atun.
“Tapi keimanan saya tidak akan dirusak oleh rasa sedih, dan sakit manusiawi itu. Justru keimanan itulah yang mengobati luka hati saya. Saya ingin anak-anak saya selamat dunia akhirat. Itu yang ada di hati saya.”
Peristiwa memalukan itu terjadi Kamis lalu, melibatkan sembilan siswa kelas IX IPS. Yang membuatnya tambah sakit, Bu Atun sama sekali tak sadar sedang direkam. Tapi reaksinya justru penuh keteladanan. Alih-alih marah besar atau mengancam melapor, ia memilih jalan lain: memaafkan dan mendoakan.
Baginya, tugas guru ya membimbing. Bukan menghakimi.
“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan,” tegasnya.
“Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak.”
Jadi, melaporkan siswa-siswanya? Tak ada niat sedikit pun. Fokusnya cuma satu: memperbaiki perilaku anak didik itu. Menurut sejumlah saksi, para pelaku memang sudah menyesal dan meminta maaf. Bu Atun melihat itu sebagai sebuah awal yang baik. Ia berharap insiden pahit ini justru jadi pelajaran berharga untuk tumbuh kembang mereka ke depan.
Artikel Terkait
Kebijakan Absent Friendly Wondr Kemala Run 2026: Hadiah Tetap Diberikan Meski Pemenang Tak Hadir
Petani Sawit Aceh Hadapi Kendala Akses Pascabanjir
Aliansi Advokat Maluku Laporkan Ade Armando dan Abu Janda ke Polda Metro Jaya
Menteri Sosial Apresiasi Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat di Sulteng