Gudang-gudang Bulog yang penuh beras jadi bukti nyata buat Bachtiar Utomo. Ketua Harian HKTI itu bilang, kondisi stok cadangan beras pemerintah yang melimpah itu bikin optimisme soal swasembada makin kuat. "Pemerintah nggak kerja cuma pakai asumsi," tegasnya di Jakarta, Minggu lalu.
Menurut dia, fakta di lapangan bicara lebih keras. "Gudang-gudang terisi optimal. Distribusinya juga terpantau dengan baik," ujar Bachtiar.
Ia merasa, berbagai kritik yang meragukan capaian swasembada itu nggak nyambung dengan kenyataan yang ada. Pernyataannya ini sekaligus menanggapi polemik yang lagi ramai, termasuk kritik dari seorang pengamat yang cuma disebut berinisial FA. Bachtiar menilai, komentar si pengamat itu nggak mencerminkan fakta sektor pertanian kita sekarang.
Sebagai bukti konkret, ia menyebut kunjungan langsung Presiden Prabowo Subianto didampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono ke sejumlah gudang Bulog. Kunjungan itu bukan sekadar pencitraan, tapi benar-benar melihat kondisi.
Dari pantauan langsung, stok beras nasional disebutnya ada di level yang tinggi. Bahkan, salah satu yang terbesar dalam catatan sejarah. "Ini mencerminkan kesiapan kita menjaga stabilitas pasokan dan harga," katanya.
Di sisi lain, produksi nasional juga diklaim meningkat signifikan. Dalam setahun terakhir, ada lonjakan produksi yang cukup besar. Perluasan area tanam, perbaikan irigasi, plus kebijakan yang lebih pro petani disebut jadi pendorong utamanya.
"Ini bukan sekadar angka di atas kertas," tegas Bachtiar. "Produksi meningkat nyata, panen bertambah, dan petani merasakan langsung dampaknya."
Nah, kombinasi stok melimpah dan produksi yang naik ini, buat dia, adalah indikator kuat. Indonesia, katanya, sudah berada di jalur yang benar menuju swasembada beras.
"Kalau stok penuh dan produksi naik, maka arah swasembada itu bukan lagi wacana," lanjutnya. "Itu adalah proses yang sedang berjalan dan semakin mendekati target."
Soal kritik tajam dari pengamat FA tadi, Bachtiar punya pendapat lain. Ia menilai pernyataan itu nggak cuma keliru, tapi juga berpotensi bikin gaduh di kalangan petani.
"Pernyataan yang nggak pakai data lapangan justru memicu keresahan," ujarnya. "Banyak petani merasa hasil jerih payah mereka seolah diabaikan. Ya wajar saja kalau akhirnya muncul protes."
Baginya, petani lah yang paling paham kondisi riil di lapangan. Suara dan pengalaman merekalah yang harus jadi rujukan utama untuk menilai capaian pangan nasional.
HKTI sendiri, bakal terus dukung langkah pemerintah memperkuat ketahanan pangan. Sinergi antara produksi petani dan pengelolaan cadangan nasional harus jalan optimal.
"Yang kita butuhkan sekarang adalah menjaga momentum," tutup Bachtiar. "Bukan membangun narasi yang nggak sesuai kenyataan. Fakta sudah jelas: stok kuat, panen meningkat, dan swasembada semakin nyata."
Sebelumnya, Wamentan Sudaryono memang mendampingi Presiden Prabowo melakukan inspeksi mendadak ke Gudang Bulog di Magelang, Jawa Tengah. Gudang berkapasitas 7.000 ton itu dalam kondisi terisi penuh.
"Jadi kunjungan ini bersifat mendadak, nggak ada pemberitahuan," kata Sudaryono. "Langsung mampir, biar tahu catatan sebenarnya seperti apa."
Dari sisi angka, kinerjanya positif. Produksi beras nasional pada 2025 disebut naik 4,07 juta ton atau sekitar 13,29 persen. Luas panen bertambah dan kebijakan penguatan sektor pertanian diduga jadi penyokongnya.
Yang lebih menggembirakan, Cadangan Beras Pemerintah hingga April 2026 mencapai sekitar 4,8 juta ton. Angka tertinggi sepanjang sejarah ini, dan masih terus bergerak mendekati 5 juta ton. "Capaian ini jadi fondasi utama menjaga stabilitas pasokan dan harga dalam negeri," beber Sudaryono.
Ia juga menjelaskan, ketahanan pangan kita nggak cuma ditopang stok pemerintah. Ketersediaan beras di masyarakat dan potensi produksi hingga akhir tahun juga punya peran besar.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya sudah lebih dulu menegaskan hal serupa. Stok CBP 4,8 juta ton hingga pertengahan April 2026 itu adalah rekor.
Mentan bahkan punya tantangan buat yang masih ragu. Ia meminta pihak-pihak itu untuk mengecek langsung ke lapangan. Lihat dengan mata kepala sendiri, biar nggak sekadar berkomentar.
Artikel Terkait
Persija Amankan Tiga Poin dari PSBS Biak, Tekan Pesaing di Puncak Klasemen
Kementerian Haji dan Umrah Diuji, Kloter Pertama Berangkat 22 April 2026
Iran Tegaskan Tolak Pembicaraan dengan AS, Gencatan Senjata Hampir Berakhir
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Jakarta Sore Ini