AS Perketat Blokade di Selat Hormuz, 14 Kapal Patuhi Instruksi

- Sabtu, 18 April 2026 | 16:15 WIB
AS Perketat Blokade di Selat Hormuz, 14 Kapal Patuhi Instruksi

Dari geladak kapal induk di perairan hangat Teluk, jet-jet tempur AS melesat meninggalkan buritan. Mereka adalah bagian dari operasi militer terbaru yang digelar CENTCOM, komando pusat Amerika Serikat, untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Irak dan Iran. Langkah ini jelas memanaskan suasana di kawasan yang sudah lama memendam ketegangan, terutama di sekitar Selat Hormuz yang legendaris itu.

Rekaman video yang beredar memperlihatkan momen lepas landas pesawat-pesawat itu. Misi mereka? Memantau dan mengawasi. Intinya, Amerika ingin aturan maritim diterapkan dengan ketat di jalur air yang jadi urat nadi perdagangan energi global ini. Kawasan ini memang selalu panas.

Menurut laporan CENTCOM, efeknya terlihat. Dalam tiga hari terakhir, setidaknya 14 kapal telah menuruti instruksi yang diberikan. Uniknya, meski bersenjata lengkap, otoritas militer AS menyatakan belum sampai perlu melakukan boarding paksa terhadap kapal-kapal yang melintas. Sejauh ini, tekanan dari udara dan laut cukup memberi efek.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, kemudian memberikan penjelasan lebih rinci.

Dia menegaskan bahwa jalur aman di Selat Hormuz tetap akan dibuka. Namun, jangan salah, persyaratannya ketat. Jalur itu khusus untuk kapal dan tanker yang tidak punya urusan dengan pelabuhan Iran baik yang hendak ke sana maupun yang berasal dari sana.

"Setiap kapal yang gagal mematuhi instruksi," tegas Hegseth, "akan ditangani sesuai prosedur militer kami." Ancaman itu menggantung jelas di udara.

Gelombang operasi ini ternyata didahului pernyataan mengejutkan dari Presiden Donald Trump. Sang mantan presiden mengklaim dirinyalah yang telah membuka kembali Selat Hormuz secara permanen. Menurutnya, langkah ini bahkan disambut baik oleh pemerintah Tiongkok.

Tak berhenti di situ, Trump lebih jauh mengeklaim adanya imbal balik. Katanya, sebagai balasan atas pembukaan jalur itu, Beijing setuju untuk menghentikan pengiriman senjata ke Teheran.

Namun begitu, klaim sepihak dari Trump ini masih menggantung. Sampai berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Tiongkok mengenai kesepakatan tersebut. Klaim itu pun menambah lapisan naratif yang kompleks di balik krisis yang sebenarnya sudah rumit ini.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar