Megawati Ingatkan Ancaman Krisis Global dalam Pertemuan dengan Dubes Jerman

- Jumat, 17 April 2026 | 18:10 WIB
Megawati Ingatkan Ancaman Krisis Global dalam Pertemuan dengan Dubes Jerman

Jumat sore itu, di kediamannya yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta, Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan diplomatik. Tamunya adalah Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste. Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu, secara alami, membahas situasi geopolitik global yang sedang memanas.

Selain sang Ketua Umum PDIP, hadir pula Sekjen partai Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Ahmad Basarah, dan Hilmar Farid dari Megawati Institute. Suasana terasa hangat dan penuh cerita.

Menurut Hasto, diskusi mereka menyentuh banyak hal. Dari situasi terkini di Timur Tengah, hingga peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung yang akan datang.

Rupanya, Dubes Ralf baru saja kembali dari Bandung. “Saya berkeliling untuk lebih mengenal Indonesia,” ujarnya.

“Kebetulan, saya baru saja ke Bandung dan mengunjungi Museum KAA,” tambahnya saat disambut Megawati.

Hasto menceritakan, sang Duta Besar terlihat sangat kagum dengan peran Bung Karno. Gagasan dan semangat KAA dinilainya masih sangat relevan hingga hari ini. Ia pun tergores oleh sejarah kepeloporannya dalam menggerakkan kebangkitan bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Mendengar hal itu, Megawati seolah teringat masa lalu. Dengan senyum, ia lalu berbagi kenangan pribadi. Di usia yang masih sangat belia, 14 tahun, ia pernah mendampingi sang ayah ke KTT Gerakan Non Blok di Beograd, tahun 1961.

“Saat itu mereka saya panggil uncle,” kenang Megawati tentang momen duduk bersama tokoh-tokoh besar seperti Nehru dari India dan Gamal Abdel Nasser dari Mesir.

Dalam forum penting itu, Bung Karno aktif meminta pertemuan dengan berbagai pemimpin dunia dan membuat catatan-catatan khusus. Untuk melengkapi pembicaraan, Megawati pun menghadiahkan beberapa buku kepada Dubes Ralf. Di antaranya adalah buku teks pidato Bung Karno di KAA, pidato di PBB berjudul "To Build The World A New", dan tentu saja, "Lahirnya Pancasila".

Namun begitu, obrolan mereka tidak hanya berkutat pada sejarah. Isu terkini juga menjadi perhatian serius. Basarah menyebutkan, Megawati menekankan pentingnya antisipasi terhadap krisis global yang mungkin terjadi. Ia bahkan bercerita tentang pengalaman langsungnya menghadapi badai krisis ekonomi 1997, dan bagaimana ia menyelesaikannya saat menjabat sebagai presiden.

“Ibu Megawati memaparkan bagaimana pemerintahannya saat itu berhasil menstabilkan nilai tukar Rupiah, membayar hutang luar negeri, dan pada akhirnya menyelesaikan krisis,” sebut Basarah.

“Pengalamannya tidak mudah, menyelesaikan krisis multidimensi kala itu. Mulai dari menangani berbagai persoalan di BPPN hingga melunasi pinjaman ke IMF. Mengapa ini disampaikan? Karena perang di Timur Tengah dan dampak pemblokiran Selat Hormuz bisa membawa dunia pada krisis baru yang harus kita waspadai bersama,” lanjut Basarah mengutip penjelasan Megawati.

Pertemuan itu pun berakhir, meninggalkan diskusi yang dalam tentang masa lalu yang membentuk hari ini, dan kewaspadaan untuk menghadapi esok.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar