Trump Kritik Paus Leo XIV Soal Sikap Lunak Terhadap Iran dan Senjata Nuklir

- Kamis, 16 April 2026 | 06:35 WIB
Trump Kritik Paus Leo XIV Soal Sikap Lunak Terhadap Iran dan Senjata Nuklir

Donald Trump lagi-lagi menyulut kontroversi. Kali ini, sasarannya adalah Paus Leo XIV, pemimpin tertinggi Gereja Katolik di Vatikan. Pemicunya jelas: perbedaan pendapat yang tajam soal kebijakan luar negeri, terutama terkait Iran.

Menurut Trump, kebijakan Paus Leo itu buruk. Dia bahkan dengan terang-terangan menyatakan dirinya bukan penggemar sang Paus, yang notabene berasal dari Amerika Serikat juga.

"Kita tidak menyukai Paus yang mengatakan bahwa tidak apa-apa memiliki senjata nuklir. Dia adalah orang yang tidak berpikir bahwa kita harus bermain-main dengan negara yang menginginkan senjata nuklir, sehingga mereka dapat meledakkan dunia," ujar Trump kepada para wartawan, Senin lalu.
"Saya bukan penggemar Paus Leo," tegasnya lagi.

Memang, Paus Leo dikenal vokal menentang rencana perang AS dan Israel terhadap Iran. Kritiknya keras. Dia bahkan menyebut retorika dan ancaman Trump ke rakyat Iran itu 'benar-benar tidak dapat diterima'.

Di sisi lain, serangan Trump tak cuma lewat mulut. Dia juga meluapkan kekesalannya di platform Truth Social. Dalam unggahan panjangnya, mantan presiden AS itu menyebut Paus Leo lemah.

"Paus Leo lemah dalam hal kejahatan, dan buruk untuk kebijakan luar negeri," tulisnya.

Trump seolah tak habis pikir. Dia menegaskan tidak menginginkan seorang paus yang membolehkan Iran punya senjata nuklir, atau yang menganggap serangan Amerika ke Venezuela sebagai hal mengerikan.

"Dan saya tidak menginginkan seorang Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat," tambahnya, mempertegas sikap.

Yang menarik, Trump kemudian membuat klaim yang cukup mengejutkan. Dia bilang Paus Leo 'tidak ada dalam daftar untuk menjadi Paus'. Menurutnya, pemilihan itu ada kaitannya dengan dirinya.

"Dan hanya ditempatkan di sana oleh Gereja karena dia orang Amerika, dan mereka berpikir itu akan menjadi cara terbaik untuk berurusan dengan Presiden Donald J. Trump," tulis Trump.

Begitulah. Pertikaian verbal antara pemimpin negara adidaya dan pemimpin spiritual tertinggi ini sepertinya masih akan terus berlanjut. Keduanya sama-sama keras kepala, dan sama-sama yakin pada pendiriannya masing-masing.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar