Gus Ipul: Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat adalah Ujung Tombak Literasi

- Rabu, 15 April 2026 | 18:35 WIB
Gus Ipul: Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat adalah Ujung Tombak Literasi

Rabu lalu, suasana Novotel BSD City di Tangerang Selatan tampak berbeda. Di sana, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, berdiri di hadapan 127 pengelola perpustakaan. Acaranya adalah Pelatihan Teknis Tingkat Lanjut untuk mereka yang bekerja di Sekolah Rakyat. Dari tanggal 15 hingga 19 April 2026, para peserta ini akan mendalami seluk-beluk mengelola perpustakaan. Tapi Gus Ipul punya pesan yang lebih dalam dari sekadar urusan teknis.

Dia membuka pembicaraan dengan nada hangat, namun penuh tekanan. “Kalian orang penting. Bahkan sangat penting,” ujarnya. Menurut Gus Ipul, peran mereka jauh lebih krusial daripada seorang menteri dalam konteks Sekolah Rakyat. “Kalian yang jadi ujung tombaknya. Kalian yang ada di depan, menentukan bagaimana Sekolah Rakyat ini nanti jadinya.”

Pernyataan itu bukan sekadar pemanis bibir. Gus Ipul melihat perpustakaan bukan sebagai gudang buku, melainkan sebagai jantung literasi. Ruang di mana masa depan siswa-siswa dari keluarga kurang mampu bisa bertumbuh. Di situlah, katanya, mobilitas sosial dimulai. Perpustakaan menjadi tempat inspirasi, referensi, dan yang utama, sumber harapan.

“Ini ruang aman,” tegasnya. Di era dimana digital dan media sosial punya efek buruk, perpustakaan hadir sebagai oase. Lebih dari itu, fungsinya strategis: membentuk karakter, melatih disiplin, memantik rasa ingin tahu, dan menjadi pondasi untuk berpikir kritis.

Karena itu, dia berharap para peserta serius mengikuti pelatihan. Ilmu yang didapat harus ditularkan. “Tolong nanti disampaikan ke para guru bahwa mereka juga harus punya pemahaman dan kepedulian terhadap perpustakaan,” pinta Gus Ipul.

Dia mengingatkan, peran mereka bukan sekadar penjaga buku. “Tapi sebagai kurator pengetahuan, penggerak literasi, dan penjaga harapan anak bangsa.” Kalimat penutupnya menggema: “Di tangan anda, buku bisa menjadi nasib baru bagi seorang anak.”

Gus Ipul kemudian mengungkapkan visi praktisnya. Ia ingin perpustakaan di Sekolah Rakyat permanen nantinya menempati area paling depan. Bukan di belakang atau tersembunyi. Untuk mewujudkan hal ini, Kementerian Sosial menggandeng Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

“Saya mohon betul ke Bapak Kepala Perpustakaan,” kata Gus Ipul, beralih ke bahasa yang lebih personal. “Panjenengan yang ahli urusan ini, saya serahkan semua. Baik tata kelola maupun penguatan SDM-nya.”

Respons datang dari Kepala Perpusnas RI, Aminudin Aziz. Dia mengapresiasi kolaborasi ini dan menyatakan keyakinannya yang penuh.

“Saya sangat percaya Sekolah Rakyat akan bisa menjadi contoh terbaik,” ujar Aminudin. “Mereka yang berasal dari kelompok termarjinalkan sekalipun, jika diberi gizi bacaan yang baik, bisa berkembang melebihi rata-rata anak sekolah biasa. Saya yakin itu.”

Aminudin lalu membeberkan dukungan konkret. Sepanjang 2025, Perpusnas telah menyuplai buku ke 150 Sekolah Rakyat. Totalnya 4.000 buku, terbagi untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Ke depan, akan ada program inovatif seperti Gerakan Literasi Sekolah Rakyat yang mengemas kegiatan mulai dari membaca hingga meresensi buku.

“Dukungan Kemensos ini akan menjadikannya model pemberdayaan perpustakaan yang betul-betul inovatif,” tuturnya.

Acara pembukaan itu juga dihadiri oleh Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono dan Sekjen Kemensos Robben Rico. Mereka menyaksikan langsung bagaimana harapan besar diletakkan di pundak para pengelola perpustakaan ujung tombak yang sesungguhnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar