Jakarta - Data dan prediksi dari BMKG harus jadi acuan utama. Itulah penekanan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, yang menilai informasi itu krusial untuk memperkuat mitigasi dan koordinasi lintas sektor. Tujuannya jelas: mencegah dampak buruk musim kemarau yang mengintai Tanah Air.
Lestari, yang akrab disapa Rerie, menyampaikan hal itu saat membuka diskusi daring bertajuk "Kesiapan Menghadapi Kemarau Terpanjang di 2026" yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (15/4/2026).
"Ada atau tidaknya El Nino, kita harus tetap bersiap menyikapi dampak perkiraan kemarau panjang yang disampaikan BMKG," tegasnya dalam keterangan tertulis.
Ia melanjutkan, ancaman seperti kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, sampai gagal panen harus benar-benar dicegah sejak dini. Jangan sampai telat.
Sebelumnya, BMKG sudah memprediksi sesuatu yang tak biasa. Musim kemarau 2026 diproyeksikan datang lebih awal, sekitar April hingga Juni, dan diwarnai fenomena El Nino Godzila. Imbasnya, kemarau tahun ini diperkirakan bakal lebih kering dan lebih panjang ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Sekitar 64,5% wilayah diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal, dengan puncaknya terjadi pada Agustus-September nanti.
Menurut Rerie, di sinilah peran kunci para pemangku kepentingan, baik di pusat maupun daerah. Mereka harus mampu memberi pemahaman yang tepat ke masyarakat. Pemahaman itu sendiri adalah bagian dari langkah mitigasi.
"Saya berharap para pemangku kepentingan dan masyarakat, serta elemen terkait dapat menetapkan sejumlah kebijakan yang dapat dipahami dan berorientasi pada upaya perlindungan masyarakat," jelas anggota Komisi X DPR RI itu.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini menekankan, seluruh data BMKG jangan cuma jadi arsip. Data itu harus dimanfaatkan untuk mempersiapkan fasilitas dan skema mitigasi dengan matang. "Jangan sampai musim kemarau mendatangkan bencana yang sebenarnya bisa dicegah," tambahnya.
Di sisi lain, dari pemerintah, upaya antisipasi rupanya sudah mulai diplot. Nurul Iftitah, Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kementerian Kehutanan RI, mengungkapkan bahwa skenario menghadapi dampak kemarau panjang itu sebenarnya sudah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 untuk sektor kehutanan.
Dalam RPJMN itu, pemerintah menetapkan sistem keamanan negara dengan mendorong kemandirian bangsa lewat swasembada pangan, energi, air, dan pengembangan ekonomi hijau serta biru. Nah, untuk sektor kehutanan, fokusnya antara lain pada pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara menyeluruh.
"DAS harus dikelola secara menyeluruh agar mampu mendukung keberlangsungan ekosistem yang lebih luas," ujar Nurul.
Ia mengakui, tantangannya tidak kecil. Lebih dari 42.000 titik DAS di Indonesia mencakup sekitar 10% dari total wilayah. Selain pengelolaan DAS, upaya rehabilitasi hutan dan lahan juga sangat dibutuhkan. Semua ini, tentu saja, memerlukan kolaborasi semua pihak.
Sementara dari sisi penanggulangan bencana, Agus Riyanto, Direktur Penanganan Darurat Wilayah I BNPB, menyebut pihaknya sudah melakukan berbagai persiapan. Awal tahun 2026 ini, Indonesia memang masih didominasi bencana hidrometeorologi. Namun, melihat prediksi BMKG soal El Nino, BNPB mulai bersiap untuk dampak kekeringan.
Menurut Agus, persiapan jangka panjang harus dilakukan lewat membangun tata kelola air yang tepat di tiap daerah. Untuk ancaman kebakaran, langkah mitigasi sudah dijalankan dengan berkoordinasi ketat bersama BMKG dan Pemda, memperkuat kesiapsiagaan, dan bahkan menyiapkan opsi modifikasi cuaca jika diperlukan.
Lalu, bagaimana sebenarnya kaitan antara musim kemarau dan El Nino? Fachri Radjab, Direktur Perubahan Iklim BMKG, mencoba meluruskan. Menurutnya, kedua fenomena ini berbeda. Indonesia secara alami punya dua musim: hujan dan kemarau. Sementara El Nino adalah pergerakan udara akibat peningkatan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik.
Masalahnya, tahun ini keduanya terjadi bersamaan. "Hal itu menyebabkan intensitas musim kemarau 2026 lebih lama dan lebih kering dari rata-rata selama 30 tahun terakhir," jelas Fachri.
Fachri memaparkan, El Nino diperkirakan terjadi pada semester kedua 2026 dengan skala lemah hingga moderat. Peluang kejadiannya cukup tinggi, sekitar 70%-90%.
Mendengar berbagai persiapan itu, Sofyan Ansori, Peneliti Kebencanaan dari IFAR Universitas Islam Internasional Indonesia, memberikan apresiasi. Istilah El Nino dan kemarau panjang kini sudah jadi perbincangan publik, sehingga perhatian terhadapnya meningkat.
Namun begitu, Sofyan punya catatan. Ia berpendapat upaya pencegahan bencana, seperti karhutla tahun ini, bisa terkendala kondisi ekonomi masyarakat yang sedang tertekan. Padahal, pengawasan dini kerap mengandalkan relawan dari warga sekitar hutan.
Oleh karena itu, ia mendorong agar kewaspadaan terus ditingkatkan secara konsisten oleh semua pemangku kepentingan, terutama melalui penguatan sistem deteksi dini. Rencana yang sudah disusun harus benar-benar bisa diterapkan di lapangan saat ancaman itu benar-benar datang.
Diskusi yang dimoderatori Pujiaryati Anggiasari ini sendiri menghadirkan sejumlah narasumber kunci, selain Nurul Iftitah, Agus Riyanto, dan Fachri Radjab, hadir pula Sofyan Ansori sebagai penanggap.
Artikel Terkait
Buruh Gelar Aksi Pra-Mayday di DPR, Tuntut Cabut UU Cipta Kerja
Dewas KPK Terima Laporan Masyarakat Soal Tahanan Rumah Yaqut Cholil Qoumas
Keluarga Korban Kebakaran PT Terra Drone Keberatan Hadir dan Bersaksi di Persidangan
Tarif Kereta NJ Transit Melonjak Delapan Kali Lipat Saat Piala Dunia 2026 di MetLife