Menteri Yandri: Potensi Ekonomi Desa Kunci Sukses Program Makan Bergizi Gratis

- Sabtu, 04 April 2026 | 17:25 WIB
Menteri Yandri: Potensi Ekonomi Desa Kunci Sukses Program Makan Bergizi Gratis

Potensi desa-desa di Indonesia, menurut Menteri Yandri Susanto, sebenarnya luar biasa besar. Bahkan, bisa dibilang melebihi apa yang dimiliki kota. Kekayaan alam dan keragaman lokal itu, jika digarap serius, merupakan modal utama.

Nah, salah satu saluran yang tepat untuk menyerap hasilnya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan begitu, nilai tambah ekonomi bisa benar-benar dirasakan masyarakat. Alhasil, ketergantungan pada bantuan dari luar pun perlahan bisa dikikis.

“Di kita banyak program, Pak. Ada desa lele, desa ikan nila, desa ayam petelur, desa jagung,” ujar Yandri dalam keterangannya, Sabtu (4/4/2026).

“Pak Wali Nagari harus bisa mengidentifikasi potensi-potensi yang ada di desa. Karena itu semua dibutuhkan oleh program MBG. Harus mampu mendorong masyarakat desa untuk fokus budidaya itu,” tegasnya.

Pernyataan itu disampaikannya saat bertemu para Wali Nagari se-Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, sehari sebelumnya.

Menteri yang juga mantan Wakil Ketua MPR RI ini punya visi lebih jauh. Ia mendorong agar hasil bumi dan keringat petani tidak berhenti di lokal. Pengelolaan yang maksimal, menurutnya, bisa membuka jalan ke pasar nasional, bahkan global.

Soalnya, sejauh ini Kemendes PDT sudah melakukan sejumlah terobosan. Beberapa produk pertanian dari desa bahkan sudah menembus pasar negara tetangga dan Eropa. Hal itu, tentu saja, menambah nilai jual dan pendapatan petani.

“Mungkin dari 103 desa itu mungkin ada beberapa desa yang punya potensi untuk diekspor. Ya nanti langsung ke negara tujuan, Pak,” katanya.

“Selama ini kan petani yang capek, tapi gak dapat duit banyak. Kenapa? Karena terlalu banyak tengkulak yang terlalu panjang rantainya itu,” ujar mantan anggota DPR RI itu.

“Jadi di kami ada program desa ekspor yang sudah banyak kami launching, kami lepas ke negara-negara tujuan. Jadi lepas bendera itu langsung dari desa saya itu, bukan dari pelabuhan,” imbuhnya, menekankan pentingnya rantai distribusi yang lebih pendek.

Di sisi lain, Yandri juga menyoroti soal pengelolaan bantuan. Pemerintah pusat menekankan agar dana dikelola dengan penuh kehati-hatian, transparan, dan akuntabel oleh pemda. Ini kunci untuk program pemberdayaan ekonomi desa.

Tujuannya jelas: afirmasi dari pusat jangan sampai menguap begitu saja. Harus ada jejak yang jelas dan manfaat nyata yang benar-benar mendarat di masyarakat.

“Ini juga akan menjadi legacy Pak Bupati dan Pak DPR RI, dan kita semua,” paparnya.

“Jadi mohon dengan sangat, sebab kuncinya di kita semua. Percuma Pak Bupati, Pak DPR keliling pidato program tapi bapak ibu tidak menyambut, tidak mengawal, hilang program itu Pak.”

“Misal dikasih bantuan satu miliar, hilang itu Pak kalau tidak dengan hati. Mungkin sekali panen aja setelah dikasih bantuan itu habis, mati programnya. Tapi kalau dengan hati, komitmen jiwa kita lahir batin, itu bisa Pak,” tutur mantan Ketua Komisi VIII DPR RI itu dengan nada serius.

Sementara itu, Anggota DPR RI F-PAN dapil Sumbar II, Arisal Aziz, melihat kunjungan menteri ini sebagai momentum penting. Banyak hal, katanya, yang harus diraih untuk memperjuangkan keinginan rakyat.

“Kami persilahkan bapak-bapak Wali Nagari untuk bertanya dan menyampaikan langsung ke pak Menteri,” ungkap Arisal.

Dalam kunjungan kerjanya itu, Yandri juga menyempatkan diri untuk salat Jumat di Masjid Syekh Burhanuddin. Usai salat, ia berziarah ke makam ulama besar tersebut.

Syekh Burhanuddin sendiri dikenal sebagai pelopor utama penyebaran Islam di Minangkabau. Caranya khas: lewat pendekatan dakwah yang lembut dan sangat arif terhadap budaya lokal.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar